Ternyata hari ini
adalah hari Valentine. Hmm, saya mungkin akan berpura-pura ikut merayakannya
meski saya sebenarnya tidak terlalu percaya dengan hari-hari khusus yang
seringkali dianggap sebagai momen-momen khusus untuk melakukan sesuatu. Meski
memang, saya setuju jika hal-hal yang berkaitan dengan cinta, pacaran, dan
berhubungan memang selalu menarik diperbicangkan. Perjalanan mencari pacar
ataupun proses dalam berhubungan dengan pasangan masing-masing pun memiliki
persoalannya sendiri-sendiri. Well, namanya juga hidup. Setiap proses hidup
pasti memiliki masalah. Masing-masing individu yang terkait dengan proses
bercinta itu tadi juga pasti memiliki masalahnya sendiri. Tentunya, para pelaku
yang bermasalah itu tadi pada akhirnya juga akan menghasilkan masalah baru. Satu
hal yang terkadang membuat permasalahan semakin pelik adalah ketika kita juga
seringkali disodorkan sebuah konsep ‘mistis’ bernama “jodoh”.
Salah satu
fenomena yang menarik berkisar percintaan ini adalah adanya sebuah kalimat dan
kepercayaan, “Kalau sudah jodoh, pasti akan berakhir di pelukan kita”. Mungkin
memang kata-katanya tidak persis seperti yang saya tuliskan di atas tapi konsep
‘jodoh’ itulah yang, menurut saya, seringkali dipahami terlalu dangkal. Konsep
‘jodoh’ itu tadi seringkali dianggap sebagai satu hal yang transenden (yang
berhubungan dengan yang kuasa yang lebih besar, entah alam semesta, tuhan atau
apapun itu). Biasanya, hal-hal yang berbau transenden itu digunakan ketika
orang-orang sudah menyerah untuk berpikir lebih jauh dan kemudian
menyerahkannya pada yang ‘di atas’. Mungkin seperti itu jugalah yang terjadi
dengan konsep jodoh yang dipahami sebagian orang itu tadi.
Saya lebih percaya
jika jodoh itu ‘constructed not given’. Maksudnya, jodoh itu tidak diberikan
secara cuma-cuma namun diusahakan. Seingat saya, sejarah belum pernah mencatat
ada seorang wanita yang dijatuhkan dari langit untuk dijadikan istri. Saya
lebih percaya bahwa kemungkinannya lebih besar bagi seorang laki-laki yang
melakukan sekian banyak usaha untuk mendapatkan seorang pacar (seperti mencoba
berkenalan dengan banyak gadis secara tatap muka – bukan hanya sekedar
memberikan ‘jempol’ di jejaring sosial) ketimbang laki-laki lain yang lebih
suka mengurung diri di kamar dan asik dengan dunianya sendiri.
Bagi yang sudah
punya pasangan, sebuah hubungan akan memiliki peluang yang lebih besar untuk
langgeng ketika satu pasangan tanpa lelah mempelajari siapakah pasangannya
masing-masing ketimbang pasangan yang tidak pernah mau tahu siapakah
pasangannya itu. Seringkali, pasangan-pasangan yang sudah memiliki durasi
hubungan cukup lama jadi lupa dengan apa yang terjadi dengan pasangan mereka.
Terlalu naif jika Anda berkata, “pasangan saya sudah tidak seperti yang dulu”.
Tentu saja pasangan Anda berubah dari waktu ke waktu. Namanya juga manusia yang
merupakan mahluk yang sangat dinamis – kecuali pasangan Anda bukan manusia.
Proses mempelajari pasangan masing-masing tidak akan pernah berhenti di satu
titik – setidaknya sampai Anda sudah terkubur di bawah tanah nanti. Ketika Anda
percaya bahwa pasangan Anda adalah jodoh Anda dan berhenti mengenalinya lebih
jauh, kemungkinan besar, Anda akan tiba pada satu waktu dimana Anda berubah
pikiran mengenai jodoh Anda itu tadi.
Terakhir, saya
lebih percaya dengan hukum sebab-akibat. Jika kita tidak akan pernah mau
berusaha, berjerih payah, ataupun berkorban, tentu saja kita tidak akan
mendapatkan capaian yang lebih jauh. Hal ini juga berlaku dalam hubungan antar
individu. So, bagi para wanita yang masih menunggu jodohnya, ada baiknya Anda
mencoba alternatif lain yang lebih aktif ketimbang sekedar menunggu. Bagi para
pria yang masih percaya dengan ‘jodoh pasti tidak akan kemana-mana’, mungkin
lebih bijak jika Anda mencoba berjalan dan mengejar gadis yang Anda inginkan.
Bagi para pasangan yang merasa telah menemukan jodohnya, tawaran saya adalah
cari tahu lebih jauh, dari diri masing-masing dan dari waktu ke waktu, alasan
dan tujuan kenapa Anda menyebutnya sebagai jodoh Anda.
Jakarta, 14 Februari 2013
Yabes Elia


No comments:
Post a Comment