Memilih komponen PC itu memang kadang bukan tugas yang mudah. Apalagi dengan begitu banyaknya brand dan kisaran harga yang berbeda-beda. Karena itu, saya di sini ingin berbagi sedikit tips umum untuk memilah dan memprioritaskan komponen PC gaming Anda.
Karena begitu banyaknya komponen PC, kebutuhan, dan kondisi kantong gamer yang berbeda-beda, tentu saya tidak bisa menjawab pertanyaan rekomendasi komponen PC gaming hanya dengan satu tulisan. Artikel ini hanya bisa dijadikan pertimbangan umum saja karena rekomendasi komponen yang spesifik hanya bisa digunakan untuk user yang spesifik juga (yang kondisi dan kebutuhannya berbeda-beda).
Jadi, kali
ini saya akan mencoba mengkategorikan komponen-komponen PC menjadi beberapa Tier
sehingga Anda bisa memilah dan menentukan prioritas komponen PC gaming Anda. Pembagian prioritas ini bukan hanya berdasarkan penting atau tidaknya komponen saja tapi juga dari pertimbangan variasi brand, dan juga berdasarkan budget yang Anda miliki.
Tier 1: Tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa dikompromikan oleh alasan apapun karena fungsinya yang krusial dan juga banyak 'jebakan'-nya. Mulai dari yang punya budget mepet sampai yang punya pohon uang, Tier 1 adalah yang terutama.
Tier 2: Bisa dikompromikan sedikit dan disesuaikan dengan selera dan kondisi Anda (misalnya kalau tidak ada budget ke yang Rp 2 juta, bisa cari yang Rp 1,5 - 1,2 juta).
Tier 3: Tier ini cukup aman untuk sedikit di'korban'kan bagi yang benar-benar berkantong tipis dan cukup aman juga karena tidak terlalu banyak 'jebakan'.
Tier 4: Hanya mereka yang berkantong tebal atau rajin menabung yang bisa selektif alias pilih-pilih di Tier ini. Bisa dibilang juga Tier 4 ini merupakan barang mewah, yang akan sangat asik bila diperhatikan dengan baik, namun bisa cari seadanya jika memang keadaan tidak memungkinkan.
Tier 1: Tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa dikompromikan oleh alasan apapun karena fungsinya yang krusial dan juga banyak 'jebakan'-nya. Mulai dari yang punya budget mepet sampai yang punya pohon uang, Tier 1 adalah yang terutama.
Tier 2: Bisa dikompromikan sedikit dan disesuaikan dengan selera dan kondisi Anda (misalnya kalau tidak ada budget ke yang Rp 2 juta, bisa cari yang Rp 1,5 - 1,2 juta).
Tier 3: Tier ini cukup aman untuk sedikit di'korban'kan bagi yang benar-benar berkantong tipis dan cukup aman juga karena tidak terlalu banyak 'jebakan'.
Tier 4: Hanya mereka yang berkantong tebal atau rajin menabung yang bisa selektif alias pilih-pilih di Tier ini. Bisa dibilang juga Tier 4 ini merupakan barang mewah, yang akan sangat asik bila diperhatikan dengan baik, namun bisa cari seadanya jika memang keadaan tidak memungkinkan.
So, mari kita mulai...
Tier 1
Mainboard
& PSU
Kedua komponen ini saya masukkan ke Tier 1 karena, bagi saya, kedua komponen itulah yang paling tidak bisa dikompromikan, sekecil apapun budget Anda. Kenapa? Mainboard merupakan komponen yang menjadi pusat bertemunya semua komponen lainnya. Semua komponen PC akan terhubung ke mainboard Anda jadi kesehatan mainboard akan jadi penentu keseluruhan sistem. Anda bisa membaca lebih jauh tentang tips mencari mainboard di sini. Durabilitas bagi saya adalah yang utama karena saya pernah mengalami yang namanya mainboard tewas seketika beberapa kali (dengan produk dari brand berbeda-beda, malah pernah ada yang hanya bertahan 1 minggu lalu tewas) saat menemani saya belajar overclocking.
Percaya
saya, rasanya hal itu sangat menjengkelkan sekali karena tiba-tiba Anda jadi
tidak punya PC… Kartu grafis rusak? Anda bisa mencopotnya dan menggunakan
onboard grafis. Paling tidak PC masih bisa digunakan untuk browsing,
mengetik, atau kebutuhan dasar lainnya tapi mainboard rusak? Well, Anda harus
puasa menggunakan PC sampai bisa membeli mainboard baru.
Sedangkan
PSU menempati Tier 1 karena ia adalah penyuplai energi ke setiap komponen. Energi
listrik lah yang digunakan oleh komponen untuk diubah menjadi tenaga komputasi.
Ibaratnya, coba saja makan sampah, pasir atau beling setiap hari, saya yakin Anda
tidak akan bisa melakukan begitu banyak kegiatan dengan optimal (atau malah mati muda ^,^) karena memang
tidak ada cukup energi yang bisa dirubah untuk menjadi tenaga. Ironisnya,
justru tidak sedikit orang yang hanya rela mengeluarkan Rp 100 – 300 ribu untuk
sebuah PSU – malah teman saya ada yang pernah membeli PSU seharga Rp 70 ribu,
yang 3 minggu kemudian matot alias mati total. So, jangan pernah mau jika
ditawari oleh penjual PSU abal-abal karena komponen itulah yang nantinya akan
memberi makan tiap-tiap komponen PC Anda.
Kedua
komponen ini juga menempati Tier 1 karena dua komponen ini juga memiliki begitu
banyak variasi brand yang tidak semuanya bisa diandalkan. Ada banyak produk mainboard dan PSU yang benar-benar akan mengecewakan Anda jika tidak sungguh-sungguh diperhatikan (karena itu saya tuliskan di atas, "banyak jebakannya"). Karena itulah, Anda
benar-benar harus selektif untuk kedua komponen ini. Pokoknya, katakan “TIDAK, EMOH, NO F***ing Way”
pada mainboard dan PSU abal-abal ^,^
Tier 2
Kartu
Grafis
Posisi Tier
2 bagi saya hanya ditempati oleh kartu grafis karena memang fungsinya yang
sangat spesifik untuk kebutuhan gaming atau rendering 3D. Selain itu, kartu
grafis itu bagi saya sangat unik karena ada 2 aspek pertimbangan yang harus
dipikirkan.
Pertama,
aspek performa yang ditentukan oleh GPU (Graphics Processing Unit – bukan Gosok
Pijat Urut ya). Kekeliruan banyak orang adalah melihat performa kartu grafis
hanya dari memorinya saja. “VGA-nya ini kencang karena sudah 2GB.” Well, itu
trik penjual saja biar Anda mau beli kartu grafis yang sudah terlalu lama
mondok di gudang (nyahaha). Faktor penentunya ada di GPU-nya dan produsen GPU untuk PC gaming saat ini itu hanya dua AMD dan NVIDIA. Keduanya sama-sama brand besar dan berkualitas,
sama-sama sangat peduli dengan tiap produknya. Jadi, saya menyerahkan ke Anda mau pilih yang mana.
Namun, biasanya, AMD menang dalam hal Price / Raw Performance. Maksudnya, dengan
kisaran harga yang sama (misalnya Rp 2 juta), GPU AMD Radeon dapat mencetak
skor di synthetic benchmark yang lebih tinggi. Sayangnya, GPU Nvidia GeForce (biasanya)
lebih optimal dalam hal Real-Life performance alias di dalam game, meski memang
seringnya dibanderol dengan harga yang relatif lebih tinggi. Jika diibaratkan
seperti mobil, GPU AMD Radeon itu sebenarnya kencang dengan harga yang lebih
terjangkau, namun kencangnya mobil tersebut hanya terlihat saat di lintasan balap
mobil yang tidak penuh hambatan dan rintangan lainnya (alias synthetic
benchmark itu tadi, misalnya 3D Mark, Unigine, dkk).
Sedangkan
dengan GPU Nvidia GeForce, Anda memang harus mengeluarkan dana yang lebih besar
untuk mendapatkan performa yang dapat menyamai kecepatan mobil balap AMD Radeon
di lintasan balap bebas rintangan. Namun berhubung supir atau pembalap mobil
Nvidia GeForce (dalam hal ini Driver, Instructions, dan kawan-kawannya) itu
lebih lihai, mobil balap Nvidia GeForce kemungkinan besar akan lebih kencang
berpacu di jalanan yang penuh rintangan, macet, polisi tidur, bis kota, dll (Real-World
performance alias game). Oh iya, berkat teknologi terbarunya juga, mobil Nvidia
GeForce sekarang juga lebih irit bensin ketimbang pesaingnya – yang bisa jadi
penting dipertimbangkan bagi Anda yang tidak mau tagihan rekening listrik yang
membengkak.
Sayangnya,
pertimbangan kartu grafis tidak hanya berhenti sampai di GPU-nya saja. GPU
merupakan satu bagian dari keseluruhan sistem kartu grafis. Jadi, para produsen
GPU tersebut menjual GPU ke produsen kartu grafis seperti Asus, MSI, Gigabyte,
Palit, Sapphire, dkk. Nah faktor produsen kartu grafis ini juga penting
dipertimbangkan karena kartu grafis tidak hanya terdiri dari GPU saja, namun
juga PCB, cooling, dan lain-lainnya, yang ditentukan oleh para produsen kartu
grafis. Untuk brand kartu grafis, saya juga percaya bahwa durabilitas itu
penting. Saya pernah punya kartu grafis merek berinisial Z yang hanya dalam 1
tahun mengeluarkan artefak (alias objek-objek aneh di layar saat bermain game)
dan rasanya hal itu memang sangat menjengkelkan. Saya berharap setiap komponen
yang saya beli masih terus bisa digunakan lebih dari 5 tahun, atau malah sampai
saya bosan menggunakannya dan menggantinya dengan yang lebih bertenaga.
Jadi, untuk
kartu grafis, Anda punya 2 tugas dalam menentukan pilihan. Pertama, tentukan
dulu GPU-nya, ingin pakai AMD atau Nvidia, dan hal ini sepenuhnya saya serahkan
ke pertimbangan Anda. Setelah menentukan GPU, Anda harus menentukan produsen
kartu grafis manakah yang Anda percaya tidak akan mengecewakan di kemudian
hari.
To Be Continued...
Berhubung sudah terlalu panjang, saya bagi artikel ini jadi 2 bagian ya supaya tidak terlihat seperti Wall of Text. Part ke 2 akan mencakup Tier 3 (Procie, RAM, & Storage) dan Tier 4 (Casing, Gaming Equip, Cooling & Display).
Jakarta, 30 Mei 2015
Yabes Elia







No comments:
Post a Comment