Saturday, August 8, 2015

Gamer itu Pemalas!

Lagi-lagi saya menemukan sebuah paradigma negatif soal game dari seorang tokoh publik. Hmm, mungkin memang di satu sisi saya percaya bahwa pengaruh orang tua terhadap anaknya memang sangat besar... Namun juga saya tahu betul bahwa tidak semua anak itu akan, mau, atau bisa mengikuti jejak orang tuanya. Sebenarnya saya juga tergelitik tentang paradigma pengaruh orang tua terhadap anaknya, namun mungkin lain kali saja saya menuliskannya.




Jujur saja saya memang sangat terganggu dengan orang-orang yang berpikiran sempit dan mendeskreditkan sesuatu hanya karena melihat satu contoh kecil saja. Apalagi jika hal yang didiskreditkan itu adalah game. Saya tidak akan bosan memberikan counter-argument terhadap paradigma negatif tentang game dan bermain game.

Mungkin memang saya tidak akan dapat merubah pola pikir orang-orang berpikiran sempit yang takut dengan hal-hal baru dan modern seperti internet dan game. Namun paling tidak, saya dapat memberikan sedikit pandangan bagi mereka yang ingin belajar dan mau membuka diri terhadap hal-hal baru yang terjadi di sekitar kita.

Sayangnya, faktanya, memang banyak orang dan anak-anak yang menggunakan video game sebagai dalih atas kemalasan atau kegagalan mereka. Banyak orang bermain game tanpa benar-benar mempelajari esensi bermain game itu sendiri.

Faktanya, ada jauh lebih banyak orang yang malas belajar ketimbang yang mau belajar, baik itu mereka punya hobi bermain game atau punya hobi yang lain. Namun konyolnya, kemalasan itu kemudian diasosiasikan dengan salah satu hobi mereka. 



Malas belajar dalam hal bermain game contohnya seperti apa? Misalnya, saya sendiri yang mengalaminya dulu ketika bermain game MMO. Ketika ada sebuah event di dalam game, banyak orang yang bertanya kepada saya mengenai event tersebut: bagaimana cara menjalankan quest, di mana lokasi quest, reward event tersebut apa, dsb. Padahal, semua informasi mengenai event itu telah dituliskan lengkap di situs resmi publisher gamenya. Contoh lainnya? Banyak orang yang mengaku 'gamer' tapi tidak tahu apa bedanya antara publisher dan developer game. Padahal sebenarnya perbedaan ini sebenarnya bisa jadi penting dalam mempelajari game itu sendiri. Belum juga banyak orang yang malas levelling sehingga menggunakan jasa joki... Atau malah beli char atau beli akun agar mereka tidak perlu memulai permainan dari awal.

Well, jika Anda tanya saya, saya juga akan setuju jika mereka itu dibilang malas tapi bukan berarti semua gamer itu malas atau bermain game itu mengakibatkan kemalasan. Hal ini yang dulu disebut oleh dosen pembimbing skripsi saya: jumping conclusion.

Sebelum saya lanjut ke argumen saya yang kedua, saya ingin bercerita sedikit. Saya masih ingat saat kuliah di jurusan Sastra Inggris, ada seorang kawan saya, yang kuliah di jurusan berbeda, bertanya ke saya, "Kalau ujian boleh buka kamus ya? Wah gampang dong kalo gitu..." Jujur saja, saya sangat jengkel kala itu... Namun saya juga sadar bahwa dia memang tidak tahu apa-apa soal jurusan Sastra.

Dari cerita itu, masuklah ke argumen saya yang kedua: Ketidaktahuan itu membuat orang meremehkan atau memandang rendah satu atau banyak hal. Hal ini juga terjadi di dalam game dan kegiatan bermain game. Game itu memang hal baru dan modern karenanya memang tidak banyak orang yang benar-benar memahami apa itu game dan bermain game. Ironisnya, seperti yang saya bilang tadi, mereka yang bermain game itu sendiri juga tidak sepenuhnya belajar apa itu esensi bermain game.



Saya sangat suka dengan Team nxl>, yang merupakan tim gamer profesional nomor satu di Indonesia karena mereka lah bukti nyata bahwa gamer itu memang bisa hidup dari kegiatan bermain game mereka. Sayangnya, memang tidak sedikit dari para 'gamer' itu menyangka hidup Team nxl> itu mudah dan enak: sehari-hari main game dapat gaji dari berbagai sponsor. Well, faktanya, terserah Anda mau percaya atau tidak, hidup itu memang tidak mudah, apapun profesi atau pekerjaan Anda. Kita meremehkan profesi atau pekerjaan tertentu karena ketidaktahuan kita.

Masih soal Team nxl>, tahukah Anda bahwa mereka tidak serta merta sampai ke titik ini? Tahukah Anda berapa kali mereka harus menanggung malu dan kecewa karena kalah di pertandingan-pertandingan penting? Tahukah Anda bahwa mereka tidak semudah sekarang ini mendapatkan berbagai sponsor? Tahukah Anda berapa jam setiap hari mereka harus berlatih agar terus dapat menjaga prestasi mereka? Tahukah tekanan dan pandangan negatif yang harus mereka terima dari orang-orang tua yang berpikiran sempit karena hidup dari bermain game?

Jika Anda tahu semua itu, Anda mungkin tidak akan lagi mengatakan bahwa hidup para gamer profesional itu mudah.

Akhirnya, saya memang percaya bahwa kemalasan itu memang bukan hal yang positif dan tidak akan membawa Anda ke titik yang lebih jauh. Namun, bukan berarti game itu mengakibatkan kemalasan dan semua gamer itu pemalas. Please, if you have a real scientific proof on games causing laziness, I want to see that and I will revise my statement.

Sebaliknya, mereka yang mengatakan game itu hanya memberikan akibat buruk dan memandang rendah kegiatan bermain game itulah yang justru pemalas. Pasalnya, seperti argumen saya yang kedua bahwa: Ketidaktahuan itu membuat orang meremehkan atau memandang rendah satu atau banyak hal, itulah yang saya kira membuat banyak orang memandang rendah game dan kegiatan bermain game. Mereka tidak benar-benar tahu dan mereka tidak berusaha mencari tahu... bukankah itu yang disebut dengan kemalasan...?


No comments:

Post a Comment