Beberapa waktu yang lalu, saya
menemukan sebuah gambar dari akun Facebook Mario Teguh seperti ini:
Di kesempatan lain, Menteri Kebudayaan
dan Pendidikan Dasar dan Menengah kita, Anies Baswedan juga
mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi di kelompok anak muda dipicu
oleh beberapa faktor, dan salah satunya adalah game. Anda bisa
melihat beritanya di sini.
Mungkin memang game masih dipandang
sebagai sebuah hal yang negatif di masyarakat kita bahkan sampai
jaman modern sekarang ini. Mungkin juga orang-orang tersebut tidak
sepenuhnya salah dan saya percaya setiap orang bebas menyatakan
pendapatnya masing-masing. Namun di sisi lain, saya juga merasa risih
dengan pandangan tersebut. Karena itulah saya menulis tulisan ini.
Pertama, bagi saya pribadi, setiap hal
yang ada di dunia ini selalu memiliki dua sisi, efek baik dan buruk.
Tidak ada satu hal pun yang benar-benar baik dan satu hal yang
benar-benar buruk. Misalnya, sebuah pisau bisa jadi digunakan untuk
membunuh orang atau bisa juga digunakan untuk memasak makanan super
lezat. Bahkan Narkoba sekalipun, ia berefek buruk karena
disalahgunakan. Jika digunakan sebagaimana mestinya, morfin bisa
sangat berguna untuk menahan rasa sakit. Saya kira teman-teman para
dokter atau mereka yang sedang kuliah kedokteran mengerti akan hal
ini dan bisa menjelaskannya lebih baik dari saya. Contoh lainnya
lagi? Bagaimana dengan isu yang lebih sensitif? Agama. Agama juga
bisa saja disalahgunakan untuk menyiksa, menjatuhkan, atau membunuh
sesama manusia. Apakah kemudian logis ketika agama tersebut yang
dijadikan kambing hitam? Tentu saja tidak. Karena manusianya lah yang
memutuskan bagaimana mereka memanfaatkan hal-hal yang ada di sekitar
mereka.
Manusia itu pada dasarnya adalah
pengecut. Kita akan bersembunyi di balik berbagai hal untuk
mengatasnamakan ego kita. Manusia bisa saja mengatakan dengan mudah
bahwa pornografi adalah penyebab pemerkosaan, padahal sebenarnya
manusianya lah yang tidak mampu menahan libido dan tidak memiliki
kemampuan untuk mencari pasangan. Kita juga menggunakan agama,
narkoba, game, atau hal lainnya sebagai kambing hitam atas
ketidakmampuan kita untuk menyelesaikan masalah.
Kedua, watak, sifat, atau sikap
seseorang itu ditentukan oleh ribuan atau bahkan jutaan faktor.
Misalnya, orang tua, keluarga, pendidikan, lingkungan, teman-teman,
agama, hobi, guru, dan juga hal-hal lainnya. Maaf, tapi bagi saya,
hanya menyalahkan salah satu faktor tersebut terasa konyol di logika
saya. Jadi, ibaratnya saja seperti ini, misalnya game merupakan salah
satu faktor dari 100 faktor yang mempengaruhi seseorang ketika
mengambil keputusan. Itu berarti game hanyalah 1% dari total penyebab
seseorang mengambil keputusan. Bagaimana dengan 99% faktor lainnya?
Jika Anda tidak percaya, mari kita
lihat ke belakang. Kekerasan, pembunuhan, penjajahan, pencurian,
perampokan sudah ada sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun sebelum
game itu ada. Game itu ada sejak abad 20 atau lebih tepatnya 1947.
Itu pun masih belum diakses oleh jutaan orang. Game pertama yang
populer di kalangan masyarakat luas adalah Pong buatan Bushnell dan
Dabney, yang dibuat di tahun 1972. Setahu saya, Hitler itu tidak main
game (dia lahir 1889 dan meninggal tahun 1945). Apalagi Joseph Stalin
(1878-1953). Itu tadi hanyalah secuil contoh saja. Saya bisa saja
menyebutkan ratusan orang-orang kejam lainnya yang sama sekali tidak
main game atau malah lahir dan mati sebelum konsep video game itu
ditemukan. Terlebih lagi, tidak sedikit para ahli yang percaya bahwa
kekerasan adalah salah satu sifat dasar manusia. Anda bisa membaca
tulisannya di sini.
Seperti yang sebelumnya saya tuliskan,
saya percaya bahwa setiap hal itu bisa memberikan efek positif dan
negatif tergantung dari manusianya. Sekarang, mari kita berbicara
tentang efek positif dari bermain game dan game itu sendiri. Ijinkan
saya mengambil contoh diri saya sendiri karena saya adalah salah satu
orang yang percaya bahwa hidup ini adalah sebuah permainan alias
game. Kenapa saya percaya dengan hal itu?
Tiga aspek yang harus ada di dalam
sebuah game adalah: tujuan (purpose), tantangan (challenge), dan
imbalan / hadiah (reward). Ketiga aspek itu juga ada di hidup kita.
Bedanya, ketiga aspek tersebut tidak disebutkan dengan jelas dan
gamblang – tidak seperti di game.
Saya berasal dari keluarga broken home
alias kedua orang tua saya bercerai ketika saya masih kecil, atau
lebih tepatnya kelas 4 SD. Saya ikut ibu saya dan bapak saya menikah
lagi dengan perempuan lain. Saat saya berusia 19 tahun, ibu saya
meninggal karena menderita kanker paru-paru. Bagi Anda yang sudah
tidak memiliki orang tua, saya kira Anda akan tahu bagaimana rasanya.
Trust me, it's one of the worst feeling that you will ever have. Saat
itu, saya masih kuliah S1 semester 2. Jadi, mulai saat itu, saya
harus mulai mencari uang sendiri untuk bertahan, mulai dari ngamen
dari warung ke warung, jaga warnet, mengajar les privat, jadi
freelance translator dan yang lain-lain. Untungnya, kakak perempuan
saya juga ikut membantu saya bertahan hidup saat itu. Saya tidak
menyerah atau stress saat itu karena apa? Because gamer never quits. Karena gamer sejati itu tidak kenal kata menyerah. Game mengajarkan kita bahwa tantangan itu pasti dan harus ada; dan ia ada untuk
dihadapi, untuk diselesaikan, bukan untuk dihindari.
Tantangan terberat saya kembali muncul
tahun 2008 bulan Januari. Saat itu saya tahu bahwa pacar saya (yang
sekarang jadi istri saya) hamil. Saat itu status saya masih seorang
mahasiswa dan memang belum menikah. Well, saya memang 'nakal' soal
itu... ehm. Kami memutuskan untuk tidak menyerah dan terus berjalan.
20 Agustus 2008 (yup, istri saya yang memilih hari cantik itu
20-08-2008), saya resmi menikah. 30 September 2008 saya resmi jadi
Sarjana Sastra. 7 Oktober 2008, anak saya yang paling cantik sedunia
lahir. 1 Desember 2008, saya mendapatkan pekerjaan profesional
pertama saya di majalah T3 Indonesia. Biasanya atau kebanyakan, 4
fasa kehidupan itu (lulus kuliah, dapat kerja, menikah, punya anak)
terjadi di tahun yang berbeda tapi saya mengalaminya di tahun yang
sama. Lagi, saya katakan, gamer sejati itu pantang menyerah. Saya
tidak mau kalah, kalah dengan kondisi, kalah dengan pandangan negatif
orang, kalah dengan pesimisme, dan kalah sebagai manusia yang utuh –
yang seharusnya bertanggung jawab atas setiap perkataan dan
perbuatannya.
Bulan April 2009, boss saya saat itu
menunjuk saya untuk mengurus majalah barunya, PC Gamer Indonesia,
sebagai Managing Editor. Wow... Saya pun takjub. Sampai hari ini,
pekerjaan saya di PC Gamer masih terasa seperti mimpi. Saya suka
menulis, bermain game, dan utak-utik komponen PC dan di sana saya
dibayar untuk melakukan semua hal tersebut. Saya juga masih tidak
tahu, apakah keberuntungan, takdir, nasib, atau apa ketika PC Gamer
mendapatkan saya dan saya mendapatkan PC Gamer. Namun, yang namanya
mimpi mungkin memang harus berakhir. PC Gamer harus tutup di tahun
kelima karena tahun 2014 mungkin tahun keramat bagi majalah cetak –
ada belasan majalah di Indonesia yang harus tutup buku tahun itu.
Kalau dibilang sedih, ya pasti sangat sedih. Saya menganggap PC Gamer
seperti anak saya sendiri. Saya yang membesarkannya dan menjaganya
dari edisi pertama sampai tutup usia. Namun saya banyak belajar di
sana dan mendapatkan banyak pengalaman menarik. Saya bertemu dengan
banyak orang dan petinggi-petinggi industri PC dan juga-juga
jalan-jalan gratis seperti ke Taiwan bersama Gigabyte, ke Thailand
bersama Intel, ke Vietnam dengan MSI dan yang lain-lainnya yang tidak
mungkin disebutkan semuanya. Belum lagi menghitung ratusan atau malah
ribuan produk PC seperti CPU, kartu grafis, memori, PSU, mouse, dan
kawan-kawannya yang bisa saya jajal tanpa harus membeli...
![]() |
| Saya (tengah) bersama Yoga Wisesa dari Trenologi.com dan Nixia dari NXA Gaming saat jadi narasumber di acara MSI Gathering |
Entahlah, mungkin hokie saya memang
bagus. Belum sempat saya menganggur (karena setelah PC Gamer tutup,
saya dikembalikan lagi untuk mengurus majalah T3 yang edisi digital),
bulan Desember 2014 lalu, seseorang menawarkan saya pekerjaan di
perusahaan internasional untuk menjadi Editor in Chief di Mobogenie,
sebuah aplikasi app store (semacam Play Store) sampai saat ini. Di
sini keasikannya memang sangat berbeda dengan di PC Gamer tapi, tetap
saja berkelas karena saya 'ngantor' di gedung puluhan lantai dan
gajinya pun ehm...
Kenapa saya bercerita semua tadi?
Karena saya ingin menunjukkan bahwa gamer itu tidak se'hina' yang
dianggap banyak orang. Gamer itu tidak identik dengan kemalasan,
tidak bisa kerja, dan hanya menghabiskan waktu. Saya bisa sampai
titik ini ya salah satunya karena game dan bermain game. Tentu memang tidak hanya itu saja. Game memang hanyalah satu faktor saja,
masih ada guru bahasa Inggris SMA saya yang cantik dan brilian yang
mengajarkan bahwa belajar itu sangat menyenangkan, ada ibu saya yang
mengajarkan saya untuk selalu berjuang di kondisi apapun, kakak
perempuan saya yang menghidupi saya ketika saya benar-benar belum
mampu menghidupi diri sendiri, teman-teman saya yang lucu-lucu, dan
jutaan hal lainnya, namun saya sangat percaya jika saya tidak suka
bermain game (baca: menghabiskan 4-8 jam setiap hari untuk bermain
game), saya yakin hidup saya akan sangat jauh berbeda dengan sekarang
ini.
Jadi, jika Anda adalah salah satu yang
memandang game dan kegiatan bermain game negatif, well saya sangat
kasihan dengan Anda karena Anda tidak mengenal dan memahami salah
satu metode belajar yang paling asik yang pernah ditemukan. Jika Anda
adalah salah satu yang bermain game dan menyukainya, jangan minder
dan buktikan bahwa game itu dapat memberikan manfaat sebesar dan
sejauh bagaimana Anda bisa menyadari dan menggunakannya.
Mungkin di lain hari, saya bisa
menjabarkan hal-hal apa saja yang pelajari dari game.
Jakarta, 15 Maret 2015.
Yabes Elia



No comments:
Post a Comment