Saturday, March 14, 2015

Gaming Influence

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan sebuah gambar dari akun Facebook Mario Teguh seperti ini:



Di kesempatan lain, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah kita, Anies Baswedan juga mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi di kelompok anak muda dipicu oleh beberapa faktor, dan salah satunya adalah game. Anda bisa melihat beritanya di sini.

Mungkin memang game masih dipandang sebagai sebuah hal yang negatif di masyarakat kita bahkan sampai jaman modern sekarang ini. Mungkin juga orang-orang tersebut tidak sepenuhnya salah dan saya percaya setiap orang bebas menyatakan pendapatnya masing-masing. Namun di sisi lain, saya juga merasa risih dengan pandangan tersebut. Karena itulah saya menulis tulisan ini.



Pertama, bagi saya pribadi, setiap hal yang ada di dunia ini selalu memiliki dua sisi, efek baik dan buruk. Tidak ada satu hal pun yang benar-benar baik dan satu hal yang benar-benar buruk. Misalnya, sebuah pisau bisa jadi digunakan untuk membunuh orang atau bisa juga digunakan untuk memasak makanan super lezat. Bahkan Narkoba sekalipun, ia berefek buruk karena disalahgunakan. Jika digunakan sebagaimana mestinya, morfin bisa sangat berguna untuk menahan rasa sakit. Saya kira teman-teman para dokter atau mereka yang sedang kuliah kedokteran mengerti akan hal ini dan bisa menjelaskannya lebih baik dari saya. Contoh lainnya lagi? Bagaimana dengan isu yang lebih sensitif? Agama. Agama juga bisa saja disalahgunakan untuk menyiksa, menjatuhkan, atau membunuh sesama manusia. Apakah kemudian logis ketika agama tersebut yang dijadikan kambing hitam? Tentu saja tidak. Karena manusianya lah yang memutuskan bagaimana mereka memanfaatkan hal-hal yang ada di sekitar mereka.

Manusia itu pada dasarnya adalah pengecut. Kita akan bersembunyi di balik berbagai hal untuk mengatasnamakan ego kita. Manusia bisa saja mengatakan dengan mudah bahwa pornografi adalah penyebab pemerkosaan, padahal sebenarnya manusianya lah yang tidak mampu menahan libido dan tidak memiliki kemampuan untuk mencari pasangan. Kita juga menggunakan agama, narkoba, game, atau hal lainnya sebagai kambing hitam atas ketidakmampuan kita untuk menyelesaikan masalah.



Kedua, watak, sifat, atau sikap seseorang itu ditentukan oleh ribuan atau bahkan jutaan faktor. Misalnya, orang tua, keluarga, pendidikan, lingkungan, teman-teman, agama, hobi, guru, dan juga hal-hal lainnya. Maaf, tapi bagi saya, hanya menyalahkan salah satu faktor tersebut terasa konyol di logika saya. Jadi, ibaratnya saja seperti ini, misalnya game merupakan salah satu faktor dari 100 faktor yang mempengaruhi seseorang ketika mengambil keputusan. Itu berarti game hanyalah 1% dari total penyebab seseorang mengambil keputusan. Bagaimana dengan 99% faktor lainnya?

Jika Anda tidak percaya, mari kita lihat ke belakang. Kekerasan, pembunuhan, penjajahan, pencurian, perampokan sudah ada sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun sebelum game itu ada. Game itu ada sejak abad 20 atau lebih tepatnya 1947. Itu pun masih belum diakses oleh jutaan orang. Game pertama yang populer di kalangan masyarakat luas adalah Pong buatan Bushnell dan Dabney, yang dibuat di tahun 1972. Setahu saya, Hitler itu tidak main game (dia lahir 1889 dan meninggal tahun 1945). Apalagi Joseph Stalin (1878-1953). Itu tadi hanyalah secuil contoh saja. Saya bisa saja menyebutkan ratusan orang-orang kejam lainnya yang sama sekali tidak main game atau malah lahir dan mati sebelum konsep video game itu ditemukan. Terlebih lagi, tidak sedikit para ahli yang percaya bahwa kekerasan adalah salah satu sifat dasar manusia. Anda bisa membaca tulisannya di sini

Seperti yang sebelumnya saya tuliskan, saya percaya bahwa setiap hal itu bisa memberikan efek positif dan negatif tergantung dari manusianya. Sekarang, mari kita berbicara tentang efek positif dari bermain game dan game itu sendiri. Ijinkan saya mengambil contoh diri saya sendiri karena saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa hidup ini adalah sebuah permainan alias game. Kenapa saya percaya dengan hal itu?

Tiga aspek yang harus ada di dalam sebuah game adalah: tujuan (purpose), tantangan (challenge), dan imbalan / hadiah (reward). Ketiga aspek itu juga ada di hidup kita. Bedanya, ketiga aspek tersebut tidak disebutkan dengan jelas dan gamblang – tidak seperti di game.

Saya berasal dari keluarga broken home alias kedua orang tua saya bercerai ketika saya masih kecil, atau lebih tepatnya kelas 4 SD. Saya ikut ibu saya dan bapak saya menikah lagi dengan perempuan lain. Saat saya berusia 19 tahun, ibu saya meninggal karena menderita kanker paru-paru. Bagi Anda yang sudah tidak memiliki orang tua, saya kira Anda akan tahu bagaimana rasanya. Trust me, it's one of the worst feeling that you will ever have. Saat itu, saya masih kuliah S1 semester 2. Jadi, mulai saat itu, saya harus mulai mencari uang sendiri untuk bertahan, mulai dari ngamen dari warung ke warung, jaga warnet, mengajar les privat, jadi freelance translator dan yang lain-lain. Untungnya, kakak perempuan saya juga ikut membantu saya bertahan hidup saat itu. Saya tidak menyerah atau stress saat itu karena apa? Because gamer never quits. Karena gamer sejati itu tidak kenal kata menyerah. Game mengajarkan kita bahwa tantangan itu pasti dan harus ada; dan ia ada untuk dihadapi, untuk diselesaikan, bukan untuk dihindari.



Tantangan terberat saya kembali muncul tahun 2008 bulan Januari. Saat itu saya tahu bahwa pacar saya (yang sekarang jadi istri saya) hamil. Saat itu status saya masih seorang mahasiswa dan memang belum menikah. Well, saya memang 'nakal' soal itu... ehm. Kami memutuskan untuk tidak menyerah dan terus berjalan. 20 Agustus 2008 (yup, istri saya yang memilih hari cantik itu 20-08-2008), saya resmi menikah. 30 September 2008 saya resmi jadi Sarjana Sastra. 7 Oktober 2008, anak saya yang paling cantik sedunia lahir. 1 Desember 2008, saya mendapatkan pekerjaan profesional pertama saya di majalah T3 Indonesia. Biasanya atau kebanyakan, 4 fasa kehidupan itu (lulus kuliah, dapat kerja, menikah, punya anak) terjadi di tahun yang berbeda tapi saya mengalaminya di tahun yang sama. Lagi, saya katakan, gamer sejati itu pantang menyerah. Saya tidak mau kalah, kalah dengan kondisi, kalah dengan pandangan negatif orang, kalah dengan pesimisme, dan kalah sebagai manusia yang utuh – yang seharusnya bertanggung jawab atas setiap perkataan dan perbuatannya.

Bulan April 2009, boss saya saat itu menunjuk saya untuk mengurus majalah barunya, PC Gamer Indonesia, sebagai Managing Editor. Wow... Saya pun takjub. Sampai hari ini, pekerjaan saya di PC Gamer masih terasa seperti mimpi. Saya suka menulis, bermain game, dan utak-utik komponen PC dan di sana saya dibayar untuk melakukan semua hal tersebut. Saya juga masih tidak tahu, apakah keberuntungan, takdir, nasib, atau apa ketika PC Gamer mendapatkan saya dan saya mendapatkan PC Gamer. Namun, yang namanya mimpi mungkin memang harus berakhir. PC Gamer harus tutup di tahun kelima karena tahun 2014 mungkin tahun keramat bagi majalah cetak – ada belasan majalah di Indonesia yang harus tutup buku tahun itu. Kalau dibilang sedih, ya pasti sangat sedih. Saya menganggap PC Gamer seperti anak saya sendiri. Saya yang membesarkannya dan menjaganya dari edisi pertama sampai tutup usia. Namun saya banyak belajar di sana dan mendapatkan banyak pengalaman menarik. Saya bertemu dengan banyak orang dan petinggi-petinggi industri PC dan juga-juga jalan-jalan gratis seperti ke Taiwan bersama Gigabyte, ke Thailand bersama Intel, ke Vietnam dengan MSI dan yang lain-lainnya yang tidak mungkin disebutkan semuanya. Belum lagi menghitung ratusan atau malah ribuan produk PC seperti CPU, kartu grafis, memori, PSU, mouse, dan kawan-kawannya yang bisa saya jajal tanpa harus membeli...

Saya (tengah) bersama Yoga Wisesa dari Trenologi.com dan Nixia dari NXA Gaming
saat jadi narasumber di acara MSI Gathering
Entahlah, mungkin hokie saya memang bagus. Belum sempat saya menganggur (karena setelah PC Gamer tutup, saya dikembalikan lagi untuk mengurus majalah T3 yang edisi digital), bulan Desember 2014 lalu, seseorang menawarkan saya pekerjaan di perusahaan internasional untuk menjadi Editor in Chief di Mobogenie, sebuah aplikasi app store (semacam Play Store) sampai saat ini. Di sini keasikannya memang sangat berbeda dengan di PC Gamer tapi, tetap saja berkelas karena saya 'ngantor' di gedung puluhan lantai dan gajinya pun ehm...

Kenapa saya bercerita semua tadi? Karena saya ingin menunjukkan bahwa gamer itu tidak se'hina' yang dianggap banyak orang. Gamer itu tidak identik dengan kemalasan, tidak bisa kerja, dan hanya menghabiskan waktu. Saya bisa sampai titik ini ya salah satunya karena game dan bermain game. Tentu memang tidak hanya itu saja. Game memang hanyalah satu faktor saja, masih ada guru bahasa Inggris SMA saya yang cantik dan brilian yang mengajarkan bahwa belajar itu sangat menyenangkan, ada ibu saya yang mengajarkan saya untuk selalu berjuang di kondisi apapun, kakak perempuan saya yang menghidupi saya ketika saya benar-benar belum mampu menghidupi diri sendiri, teman-teman saya yang lucu-lucu, dan jutaan hal lainnya, namun saya sangat percaya jika saya tidak suka bermain game (baca: menghabiskan 4-8 jam setiap hari untuk bermain game), saya yakin hidup saya akan sangat jauh berbeda dengan sekarang ini.


Jadi, jika Anda adalah salah satu yang memandang game dan kegiatan bermain game negatif, well saya sangat kasihan dengan Anda karena Anda tidak mengenal dan memahami salah satu metode belajar yang paling asik yang pernah ditemukan. Jika Anda adalah salah satu yang bermain game dan menyukainya, jangan minder dan buktikan bahwa game itu dapat memberikan manfaat sebesar dan sejauh bagaimana Anda bisa menyadari dan menggunakannya.

Mungkin di lain hari, saya bisa menjabarkan hal-hal apa saja yang pelajari dari game.

Jakarta, 15 Maret 2015.
Yabes Elia







No comments:

Post a Comment