Friday, May 9, 2014

Turut Berduka Cita? Well, F' You!

"Turut berduka cita". Lagi-lagi saya membaca frasa tersebut. Jujur saja, saya sangat merasa terganggu saat mendengar atau membaca ungkapan basa-basi tersebut.

Saya tahu betul rasanya ketika ibu saya meninggal beberapa tahun silam dan saya menerima ratusan ucapan tersebut. Yang ada di kepala saya, "turut berduka cita? well, you don't even f'ing know what kind of grief that I feel. So, don't you dare to say that you know or feel my feeling."

Meskipun saya pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggal orang tua, saya juga tidak akan mengatakan 'turut berduka' kepada teman saya yang baru saja kehilangan orang terdekatnya. Pasalnya, saya percaya bahwa setiap hubungan anak dan orang tua itu unik ke masing-masing individu jadi tidak akan ada orang lain yang bisa merasakan bagaimana persisnya kesedihan tiap-tiap orang ketika berada di posisi tadi.

Ada juga ucapan basa-basi lain yang mengatakan, "tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Mmmm, jujur saja saya akan mengatakan, "no, it won't. It will be worse." Bagaimana mungkin kehilangan orang terdekat akan berakhir dengan 'baik-baik saja'? Kerinduan Anda untuk berbincang, bercanda, atau bahkan hanya melihat orang terdekat Anda tersebut tidak akan pernah terwujud setelah mereka meninggal. Jadi, tidak ada yang namanya kondisi akan jadi 'baik-baik saja'. Kerinduan itu harus Anda tanggung sampai Anda ikut meninggal nantinya - kecuali bagi kasus-kasus tertentu untuk orang tua yang memang tidak pernah mau mengurusi anaknya (trust me, that kind of parents won't be missed).

Ungkapan lainnya? Ucapan sok-sok an religius, "Ini ujian dari yang di atas bagi kamu dan mereka sudah berada di tempat yang lebih baik sekarang." Mendengar itu, saya jadi bertanya, "jadi yang di atas itu, membunuh ibu saya agar saya bisa jadi lebih baik? What kind of fucked-up god you have in mind?" Orang yang meninggal ada di tempat yang lebih baik? Well, kenapa tidak kamu bunuh saja orang-orang terdekat kamu juga supaya mereka berada di tempat yang lebih baik?"

Menghadapi situasi berduka itu memang tidak mudah, baik bagi para penontonnya atau bahkan bagi mereka yang mengalaminya secara langsung. Sebenarnya saya juga sadar bahwa ada di antara orang-orang yang mengatakan tadi hanya kebingungan ingin mengucapkan apa (meskipun ada juga yang sok-sok an akrab dan sekedar basa-basi). Jadi, bagi Anda yang benar-benar ingin mendukung mereka yang sedang berduka jadilah diri Anda sendiri. Bagi Anda yang hanya sekedar sok kenal sok dekat, "don't do that. It's better for them (not for you) if you say nothing."

Saya masih ingat betul dengan ucapan seorang kawan saya yang juga kawan ibu saya ketika ibu saya meninggal, "ga usah cengeng, anak cowok itu ga boleh nangis." Bagi saya, saya lebih sangat menghargai sarannya yang mungkin terdengar kasar namun jauh lebih jujur.

Lalu, apakah yang akan saya katakan ketika mengetahui ada teman saya yang berada di situasi tersebut? Well, kalau memang tidak dekat dan tidak tahu keluarganya, saya lebih memilih diam. Saya justru menghormati mereka dengan tidak ingin sok kenal, sok dekat, sok prihatin dan lain-lainnya. I respect them to deal their own grief in their own way. Tapi kalau saya merasa cukup dekat dengan mereka, saya hanya mengirimkan pesan pendek yang mengatakan, "call me, if you need me."

No comments:

Post a Comment