Saturday, April 4, 2015

Learning from Gaming

Seperti janji saya beberapa waktu lalu, hari ini saya ingin berbagi hal-hal apa saja yang saya pelajari dari game dan bermain game. Berikut ini adalah beberapa hal yang saya pelajari dari pengalaman saya bermain game selama bertahun-tahun sejak saya masih di Sekolah Dasar dan menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk bermain game.



1. Gamer Never Quit
Seperti yang saya tuliskan di tulisan saya sebelumnya di sini, saya percaya bahwa game adalah salah satu hal yang membuat saya tidak takut dengan tantangan. Tantangan atau masalah adalah salah satu bagian paling penting dari sebuah game dan juga hidup. Masalah atau tantangan di dalam game ada bukan untuk dihindari tapi untuk diselesaikan, untuk dihadapi. Tantangan juga dihadirkan untuk membuat kita belajar lebih jauh, agar kita lebih siap untuk menghadapi masalah berikutnya di level yang lebih tinggi.

Saya sungguh percaya bahwa hal inilah yang menjadi kunci paling penting untuk terus belajar, karena itu jugalah saya menaruhnya di hal pertama yang saya pelajari dari game. Saya cukup dekat dengan pentolan tim nxl>, tim gamer CS:GO professional nomor 1 di Indonesia dan mungkin di Asia Tenggara, Richard Permana (frgdibtJ). Satu hal yang saya pelajari darinya adalah seorang juara bukanlah mereka yang selalu memenangkan pertarungan namun mereka yang tidak pernah menyerah meski kalah. 

Saya yakin sebenarnya tim nxl> jauh lebih sering kalah (apalagi waktu awal-awal timnya terbentuk) ketimbang menang sejak dari awal terbentuk sampai hari ini. Saya juga masih ingat bahwa bertahun-tahun yang lalu, tim nxl> memiliki musuh bebuyutan yaitu XCN. Seingat saya, dulu, XCN lebih sering menang saat kedua rival ini bertarung. Namun saat ini, nxl> masih eksis dan masih berprestasi. Sedangkan XCN sudah tidak terdengar lagi namanya. 

Demikian juga dengan seorang pemain LoL (League of Legends) professional yang saat ini diakui sebagai pemain LoL terbaik di seluruh dunia, Faker, dari tim SKT T1 asal Korea Selatan. Satu hal yang membuatnya ditakuti oleh semua lawannya adalah Faker tidak selalu memimpin di awal permainan (early game), bahkan tak jarang ia tertinggal dalam hal CS (Creep Score) ataupun KDA (Kill, Death, Assist) namun ia selalu mengejar ketertinggalannya dan menjadi pemain kunci di late game. Jika Anda cukup familiar dengan MOBA (Multiplayer Online Battle Arena), Anda pasti tahu bagaimana mudahnya memenangkan pertarungan ketika sudah memimpin sejak awal permainan. Namun Anda juga pasti tahu bagaimana sulitnya mengejar ketinggalan. 

Menyerah itu memang mudah. Namun manusia belajar lebih banyak dari hal yang sulit ketimbang dari hal yang mudah.



2. Gamer Understands the Rules, yet Creative.
Kalau ada yang bilang bahwa gamer adalah mereka yang tidak tahu aturan atau malah anarkis, saya kira mereka tidak benar-benar mengerti apa itu game dan bermain game. Untuk memenangkan setiap pertempuran, gamer harus tahu betul gameplay dan aturan main yang ada di dalam game tersebut. 
Misalnya saja antara DOTA 2 dan LoL, saya kira hanya orang bodoh yang ngotot memaksa bermain gaya DOTA 2 di dalam LoL atau sebaliknya. Memang, keduanya sama-sama MOBA, sama-sama berasal dari benih yang sama yaitu DotA (Defense of the Ancient), custom map untuk Warcraft 3: The Frozen Throne, dan memiliki banyak kesamaan jargon: last hit, creeping, juking, animation cancelling/ orb walking, gangking, carry, dan lain sebagainya. Namun keduanya sangat berbeda dari segi basic gameplay-nya. DOTA 2 bisa deny, LoL tidak. Anda kehilangan gold saat mati di DOTA 2, LoL tidak. Ada banyak contoh lain yang bisa saya sebutkan yang tidak bisa saya tuliskan atau tulisan ini bisa jadi novel ratusan halaman.

Jadi, gamer yang baik seharusnya tahu betul aturan main di setiap game yang dimainkan: apa saja yang bisa kita lakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan. Meski begitu, di sisi lain, gamer juga harus tahu betul untuk tetap kreatif atau strategi dan gaya permainan kita akan mudah terbaca oleh lawan. Jadi, bagi saya, di sinilah keasikannya. Anda harus kreatif namun juga tetap harus tahu aturan. Kreatif seliar mungkin itu mudah dan menuruti semua aturan seperti robot pun juga sangat mudah. Namun tetap kreatif dalam keterbatasan? Saya kira tak semua orang bisa melakukannya dengan baik.  
Saya cukup yakin bahwa hal ini juga sangat penting dalam hidup kita sehari-hari. Anda mau liar tanpa aturan atau mau menuruti semua perkataan guru, dosen, orang tua, boss itu mudah. Namun, bagaimana Anda bisa kreatif namun tetap dalam batasan aturan itulah yang saya kira tidak mudah dilakukan. Saya juga percaya bahwa kreatif namun tetap mengerti aturan itulah yang membuat kita lebih menarik, baik dalam aspek professional ataupun personal. 



3. Gamer Knows There is No Such Thing as Instant Win
Saya kira inilah akar masalah banyak orang saat ini atau bahkan sejak dulu kala. Banyak orang berharap dengan kemenangan cepat. Banyak orang ingin segala sesuatunya terjadi secara instant. 

Gamer yang baik harusnya tahu bahwa tidak ada yang namanya kemenangan instant. Jika Anda biasa bermain RPG, Anda pasti tahu bahwa Anda pasti memulai permainan dari level 1. Kita butuh jutaan atau bahkan mungkin milyaran EXP, membantai jutaan monster, memasuki ratusan dungeon, menyelesaikan ribuan quest, dan yang lainnya agar bisa mencapai level tertinggi. 

Saya masih ingat ketika hari-hari saya bermain MMORPG, banyak orang beli karakter level tinggi, minta GB (gaji buta)/ power levelling, ataupun bayar jasa joki untuk levelling. Well, maaf jika Anda salah satu orang yang pernah melakukannya tapi, bagi saya, Anda bukanlah gamer sejati. Mungkin memang kelihatannya semuanya jadi mudah dan enak karena tidak perlu melewati semua tahapan levelling yang bisa jadi membosankan namun biasanya mereka yang melakukan hal tersebut jadi tidak tahu apa-apa soal game itu. Bagaimanapun juga, saya sangat percaya bahwa belajar itu mengalami. Justru proses levelling panjang dan membosankan itulah yang membuat kita belajar banyak. 

Sama juga seperti di kehidupan riil. Anda bisa saja membeli ijazah S1 atau membayar jasa orang lain untuk mengerjakan skripsi Anda tapi tentu saja hasilnya akan sangat berbeda dengan orang yang benar-benar kuliah dan mengerjakan skripsinya sendiri. Contoh lain? Saya belum pernah dengar ada bayi yang baru lahir yang langsung bisa berbicara dan berjalan. Butuh waktu bertahun-tahun agar seseorang bisa meloncat, berbicara lebih dari satu bahasa dan yang lainnya. 

Belajar itu memerlukan proses dan waktu. Saya percaya, seharusnya, gamer sejati juga menyadari hal ini.



4. Gamer is a Fast Learner
Seperti yang saya tuliskan di poin nomor 2, gamer harus tahu aturan main dari sebuah game namun juga tetap harus kreatif agar bisa memenangkan pertandingan. Untuk dapat melakukan hal tersebut, seorang gamer harus dapat belajar dengan cepat.

Kurang lebih, ada 800an judul game yang sudah saya selesaikan (benar-benar selesai main campaign, bukan hanya main setengah jam, lalu ditinggalkan), baik itu di platform PC, PSX, GBA, Android, PSP, SNES dan yang lainnya. Semua game yang saya mainkan itu unik dan memiliki aturan main (gameplay) yang berbeda-beda. Bahkan misalnya sama-sama FPS (First Person Shooter) saja, feel, control, rules, dan aspek lainnya berbeda-beda. Battlefield, Call of Duty, Counter Strike, Borderlands, Half-Life, atau yang lainnya memiliki ciri khas masing-masing. Mempelajari game tersebut secepat dan sedetil mungkin adalah kunci untuk menyelesaikan permainan. Borderlands memiliki elemen RPG yang kental sehingga penting untuk memikirkan build layaknya permainan RPG, seperti item, skill, weapon, dkk, sedangkan Counter Strike benar-benar menitikberatkkan pada skill sang pemain seperti aiming, gliding, dll. 

Bagi Anda yang doyan RPG tentu tahu bahwa memahami role kita, apakah itu Damage Dealer, Tanker, atau Healer, adalah langkah utama untuk dapat bermain lebih jauh. Saya kira hal ini juga sebenarnya sangat penting di hidup kita. Mengenali siapa diri kita, apa saja kelemahan dan kelebihan kita, adalah langkah utama untuk dapat mencapai level yang lebih tinggi. Jika Anda tidak peka nada (saya yakin Anda yang menggemari musik, harusnya tahu istilah ini), ya jangan jadi penyanyi karena pasti akan fals. Jika Anda tidak punya fisik yang prima ya lebih baik jangan jadi olahragawan karena pasti akan muntah-muntah setelah lari-lari puluhan meter (seperti saya). Dengan mengenali kelemahan dan kekurangan kita, saya percaya bahwa kita bisa lebih fokus belajar pada hal-hal yang lebih praktis dan berguna bagi tiap-tiap orang.



5. Gamer Knows that Learning is Fun
Saya sangat percaya bahwa bermain game adalah salah satu proses belajar paling modern. Kembali ke contoh LoL, Anda harus tahu dulu apa itu bedanya AD carry atau AP Carry, Summoner Spells, Runes, Masteries, jika ingin bermain dengan maksimal. Anda juga harus tahu semua skill dari tiap champion, mekanisme warding, kombinasi item build dan lain sebagainya yang memang tidak mungkin dipelajari dalam satu malam. Ini kita masih membahas satu game, belum DOTA 2 yang punya hero dengan skill yang berbeda-beda. Belum lagi, berbicara soal FPS, RTS, RPG, dan kawan-kawannya.

Belajar itu mungkin memang melelahkan dan kadang membosankan namun biasanya saya fokus pada hasil akhirnya ketika merasakan hal-hal negatif itu. Menyelesaikan Skyrim, Borderlands series, The Witcher, Divinity Original Sin, Mass Effect, dan ratusan game lainnya benar-benar memuaskan dan merupakan pengalaman yang tak akan pernah tergantikan. Saya masih ingat tiap ending dari game-game yang saya mainkan dengan sungguh-sungguh itu dan saya merasakan kepuasan yang tak dapat dibeli dengan uang. 

Demikian juga dengan pengalaman personal saya. Ketika saya melihat hidup saya sekarang, ya saya cukup puas dan bangga telah mengalami banyak hal pahit, Anda bisa membacanya di tulisan saya sebelumnya di sini. Saya tahu semua hal-hal terbaik yang terjadi di hidup kita biasanya tidak bisa dibeli dengan uang. Hal-hal tersebut hanya bisa ditebus dengan keringat dan proses belajar. 

Akhirnya, sebelum tulisan ini jadi terlalu panjang, saya ingin mengatakan, seperti yang selalu saya katakan sewaktu saya masih di PC Gamer Indonesia: “Jangan lupa bermain setiap hari ya!”

Jakarta, 4 April 2015
Yabes Elia

No comments:

Post a Comment