Pertama, mari kita bicara soal
korupsi. Menurut saya, para pejabat itu korupsi karena mereka tidak cukup
pintar untuk mencari jalan lain mendapatkan kekayaan lebih. Mereka terlalu
bodoh untuk berpikir mencari solusi yang lebih elegan untuk menyelesaikan
persoalan ekonomi atau memuaskan keserakahan mereka.
Saya percaya bahwa salah satu tolak ukur kecerdasan seseorang dapat
dilihat dari cara mereka berbicara. Lihat saja kebanyakan para politikus ketika
berbicara. Kebanyakan dari mereka ngomong berputar-putar tidak jelas, tidak ada
penyusunan ide yang logis atau mengulang-ulang satu topik karena kehabisan
argumen yang masuk akal. Bagaimana disuruh berpikir mencari penghasilan lebih,
menyusun kata-kata saja kesulitan. Berbeda dengan SBY dan Jokowi misalnya,
paling tidak 2 figur politik itu yang saya lihat cukup pintar berbicara yang
kemudian saya anggap logika berpikir mereka juga seharusnya cukup tertata
dengan baik. SBY bahkan bisa menghasilkan album lagu yang mungkin dijadikan
solusi alternatif untuk menambah popularitas ataupun kekayaan. Paling tidak,
cara tersebut lebih elegan ketimbang mencuri uang negara.
Coba kita lihat beberapa tokoh penting lain dalam skala yang lebih
luas, Bill Gates misalnya. Saya tidak membayangkan bahwa dia akan mencuri uang
perusahaannya, Microsoft. Tokoh lainnya, Stephen Hawking mungkin juga tidak
akan mencuri uang perusahaan. Buat apa juga kedua orang tersebut mencuri,
mereka tahu betul otak mereka cukup berharga dan dapat menghasilkan banyak
materi. Hanya orang-orang yang memiliki kapasitas otak yang sedikit di atas
idiot yang hanya tahu jalan pintas semacam korupsi untuk menambah penghasilan
bulanan mereka.
Bagaimana dengan pemerkosaan? Bagi saya, itu juga sama penyebabnya
yaitu kebodohan. Para pemerkosa tersebut terlalu dungu untuk bisa memikirkan
bagaimana cara merayu wanita agar mau tidur dengan mereka secara sukarela. Bisa
juga, mereka tidak punya kemampuan berpikir yang dapat diandalkan sehingga
tidak ada wanita yang mau jadi istri mereka. Penyebab lainnya adalah mereka
juga mungkin terlalu bodoh untuk bisa mendapatkan penghasilan lebih yang bisa digunakan
untuk menyewa wanita-wanita penjaja syahwat.
Jika mereka cukup pintar, para pemerkosa itu pun juga seharusnya sadar
bahwa resikonya tidak sebanding dengan kesenangan yang mungkin mereka dapatkan.
Durasi orgasme laki-laki itu paling lama
berapa menit? Bandingkan dengan hukuman penjara yang sampai dengan tahunan
durasinya. Jika seorang laki-laki bisa orgasme selama 6 bulan lebih tanpa
henti, mungkin resikonya akan sedikit lebih sebanding dengan kenikmatan syahwat
yang bisa didapatkan. Itupun sebenarnya masih sangat merugi untuk
hitung-hitungan ‘risk and gain’. Orang yang sadar betul dengan logika, tidak
akan mau mengorbankan waktu 10-15 tahun penjara untuk ditukar dengan 10-15
menit kepuasan syahwat – toh juga sebenarnya waktu 10-15 tahun juga sudah lebih
dari cukup untuk bisa digunakan demi mencapai kepuasan birahi tanpa resiko sama
sekali.
Terakhir adalah tawuran. Saya sangat percaya dengan satu hal: orang
yang cukup percaya diri dengan otaknya, tidak akan menggunakan otot sebagai
solusi permasalahannya. Orang yang menggunakan otot sebagai solusi masalah,
biasanya, karena memang memiliki keterbatasan dalam berpikir – kecuali para
atlit beladiri karena hal itu adalah
hobi mereka mungkin. Bagi saya, emosi marah sama dengan luapan tangis
seseorang. Orang-orang yang mudah marah adalah orang-orang cengeng yang senang
dikasihani. Manusia, paling tidak saya sendiri, cenderung untuk menyerah pada emosi
ketika merasa mentok saat harus menghadapi masalah. Saya percaya ketika kita
merasa tahu benar jawaban dari sebuah soal ujian, kita tidak akan menggerutu
atau menangis karena soal tersebut. Kita pasti akan langsung menjawabnya sesuai
dengan logika berpikir kita masing-masing.
Mari kita balik kasus ini dengan melihat para siswa teladan yang
mungkin mendapatkan beasiswa penuh. Saya kira kecil sekali kemungkinan para
siswa tersebut ikut-ikutan lempar-lemparan batu di jalan raya. Untuk apa mereka
panas-panas, haus dan lelah di jalanan hanya demi harga diri ketika mereka bisa
duduk manis di kamar masing-masing yang pastinya lebih nyaman. Toh para siswa
teladan tersebut tidak perlu aktualisasi diri ingin dibilang keren saat berani
bertarung melawan sekolah lawan karena mereka sudah terlalu banyak dipuji oleh
guru-guru dan orang tua mereka.
Jakarta, 12
Februari 2013
Yabes Elia
No comments:
Post a Comment