Aku terbangun sendiri dan telanjang...
Yang kuingat, semalam, aku lari dari hidup, mencoba menyandarkan susahku pada sebuah botol yang merah labelnya. Aku menari bersama teman baruku. Dia bermusik dengan buah dadaku. Aku bernyanyi dengan sepotong dari tubuhnya. Logikaku seketika menyapa. Aku tersentak, menolak, tak dapat bergerak, dan akhirnya tak sadar.
Yang kutahu, sejak saat ini, pagiku takkan seindah yang dulu...
Kutatap wajahnya yang tampan dan badannya yang kekar, basah oleh keringat. Sempat terngiang di telingaku pesan ibuku, “masa bodoh!”. Apa salahnya menikmati suatu kenikmatan, apalagi yang terlarang. Sensasi di sekujur tubuhku semakin deras mengalir, sampai puncaknya, aku merasa terbebas. Rasanya seperti ada suatu getaran yang melompat hebat keluar dari raga ini. Tak lama kemudian, kurasa hangat dan basah dalam liang rahimku. “aku mencintaimu” bisiknya di telingaku seusai mengecup dahiku.
Terngiang lagi pesan ibuku, “ibu yang bodoh, ibu pasti belum pernah terpuaskan”.
Keesokan malam, kudapati dia, manusia yang padanya kuberikan kebanggaanku, bercumbu dengan gadis lain. Tangisku semakin menjadi saat aku mengadu pada teman baikku. Dia tahu namun dia diam. Sejak setahun yang lalu, teman baikku mengetahui pacarku mengasah kerisnya di sembarang tempat. Dia tidak tega, katanya. Padahal, seringkali aku sesumbar padanya tentang betapa beruntungnya aku punya pacar tampan dan cukup mapan. “Dia itu jujur, baik hati, dan sangat dewasa, makanya jadi cewe yang cantik dong!”
Terngiang lagi pesan ibuku, “aku memang bodoh...”
Aku mencintainya dengan seluruh jiwa dan raga. Kurelakan badannya menindihku sebagai bukti cintaku. Inilah bentuk kesungguhanku, kubiarkan pusarnya menempel dipusarku. Aku rasakan cinta dalam setiap gesekkan pahanya pada pahaku. Memang tak pernah aku puas, namun memang bukan itu yang kucari. Aku ingin hati bukan birahi.
Sebulan kemudian, aku mendapatkan buah cinta kami. Satu hati telah hadir, terbentuk oleh dua hati yang bersatu dalam buai asmara. Aku tidak takut. Aku tahu dia, keberaniannya, pertanggungjawabannya, kedewasaannya, dan yang terpenting, cintanya. “Aku tidak bisa” katanya, “kita belum siap” waktu kukabarkan berita gembira ini.
Demi cintaku, aku hapuskan jejak hitam beban moral kami. Namun, hal itu tak semudah yang kubayangkan. Aku dan dia, merampas hak untuk hidup seorang manusia, mengingkari setiap kata cinta yang pernah terucap, memuaskan ketakutan dan kebimbangan, dan terlalu menilai rendah diri kami sendiri. Andai aku menemukan cinta lain selain dia waktu itu, mungkin bisa kulihat bukti cintaku dengan mata kepalaku.
Yogyakarta, 4 September 2008
Yabes Elia
No comments:
Post a Comment