Yang membuat saya tergelitik adalah sebagian besar orang yang mengaku memiliki kemampuan berbahasa ‘Baik Sekali’ masih menggunakan “ditempat” ataupun “di pukul”. Saya pun bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan pertanyaan mengenai kemampuan berbahasa tadi.
Mungkinkah sebagian besar orang Indonesia mengartikan kemampuan berbahasa hanya dengan mengetahui arti dari sekian banyak kosakata bahasa Indonesia dan menutup mata terhadap tata bahasa? Ataukah mungkin definisi kemampuan berbahasa yang dipahami sebagian besar orang hanya sebatas bisa berbicara, mendengar, menulis dan membaca? Bisa jadi, sebagian orang besar orang tidak pernah menganggap bahasa sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang cukup rumit dan sangat berguna sehingga mereka hanya memahami berbahasa sama dengan mengerti kosa kata. Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu saat kawan saya yang kuliah di jurusan Teologia bertanya pada saya mengenai ujian yang dilaksanakan di jurusan Sastra Inggris. “Kalau waktu ujian boleh bawa kamus berarti gampang ya kuliahnya,” kira-kira seperti itulah tanggapan yang dilontarkan salah satu temanku.
Kemungkinan lain, sebagian besar orang hanya menonton sinetron, membaca novel-novel ‘teenlit dan chicklit’ ataupun mengikuti berita infotainment yang memang menggunakan bahasa-bahasa yang sangat mudah dipahami. Mereka mungkin belum pernah menjamah tulisan-tulisan karya Derrida, Magniz Suseno, Romo Sindhunata, ataupun tulisan-tulisan lain yang berbau filsafat yang sebagian besar tidak mudah dimengerti kebanyakan orang. Karena itu, banyak orang berfikir jika berbahasa itu mudah. Jika saja sebagian besar orang membaca Dunia Sophie, Kambing Hitam, ataupun Jurgen Habermas, mungkin membaca akan menjadi hal yang lebih sulit daripada yang bisa dibayangkan.
Atau mungkin, saya yang salah saat mempermasalahkan pertanyaan kemampuan berbahasa? Opsi jawaban yang disediakan dari pertanyaan tersebut semuanya berupa adjektif atau kata sifat. Bukankah semua kata sifat itu bersifat subjektif? Cantik, pintar, besar, hebat, sukses, bahkan hitam pun sangat subjektif (hex triplet 000000 ataupun 000001 tetap bisa dibilang hitam). Jadi, sebagian besar orang pun bebas memberikan jawaban sekenanya ataupun seenak jidat mereka sendiri.
Bagaimana kalau yang salah adalah bahasanya itu sendiri? Bukankah bahasa itu penuh dengan ambiguitas? Sebagian orang masih saja seringkali mempertanyakan apakah perbedaan antara cinta dan kasih sayang. Batas definisi antara gosip dan berita pun semakin hari semakin kabur dan tidak jelas. Bukankah bahasa tetap tidak bisa mengakomodasi rasa? Kehilangan orang tua ataupun mendapatkan nilai buruk saat ujian tetap dikategorikan dalam ‘kesedihan’. Mencintai seseorang dalam waktu tiga hari dan berganti mencintai orang lain seminggu kemudian ataupun mencintai seseorang sampai bertahun-tahun pun seringkali masih dikategorikan ke dalam kata kerja ‘mencintai’.
Jakarta, 17 Maret 2010
Yabes Elia
No comments:
Post a Comment