Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan
sebuah promosi dari AMD bernama Never Settle Reloaded. Program ini merupakan
lanjutan dari program promo beberapa waktu silam yang memberikan hadiah free
games kepada para pembeli kartu grafis AMD Radeon seri HD 7900 dan 7800. Kali
ini, Never Settle Reloaded membagi-bagikan game-game menarik seperti Crysis 3, DmC, Tomb Raider, dan BioShock Infinite bagi para pengguna
kartu grafis AMD Radeon. Memang, kita tetap harus mengunduh game-game tersebut
karena AMD hanya memberikannya dalam bentuk Steam code (karena itu kita juga
harus membuat akun Steam bagi yang belum memilikinya). Tentunya, akan lebih
menarik ketika promo tersebut langsung memberikan DVD installer karena para
pengguna tadi tidak harus mengunduhnya dari internet, mengingat sebagian para
gamer di Indonesia memiliki koneksi internet yang tidak terlalu dapat
‘diandalkan’. Namun demikian yang menarik bagi saya adalah Never Settle
Reloaded tidak hanya sebuah bentuk promosi namun juga sekaligus bentuk edukasi,
terutama bagi para gamer di Indonesia.
Seberapa banyakkah para gamer yang bermain
dengan game bajakan? Harga seringkali dijadikan kambing hitam bagi para gamer
memilih game bajakan. Mungkin, bagi para gamer di negara-negara maju, kisaran
harga US$ 30-60 untuk sebuah game bukan harga yang memberatkan. Namun, dengan
kondisi perekonomian di sini, harga tersebut bisa jadi sebuah harga yang
terlalu tinggi untuk sebagian orang. Meski begitu, mari kita coba bandingkan
dengan game-game Free-to-Play yang menggunakan sistem micro-transaction atau
yang lebih dikenal dengan Item Mall. Jika Anda ingin ‘imba’ di game-game
tersebut, Anda tidak akan mungkin hanya menghabiskan uang sekitar Rp 300 – 600
ribu saja. Beberapa kawan yang saya kenal menghabiskan dana sampai jutaan Rupiah
hanya untuk membuat senjata dewa. Sistem Item Mall memang memiliki kekurangan
dan kelebihannya sendiri namun saya tidak ingin membahas itu di sini. Saya
ingin membandingkannya dengan harga game-game Pay-to-Play tadi. Hanya dengan
kisaran harga Rp 300 – 600 ribuan, Anda bisa bermain game sepuas yang Anda mau.
Anda bebas bermain 24 jam selama 7 hari non-stop, tidak akan ada yang melarang
Anda. Untuk menjadi ‘imba’ pun Anda hanya perlu investasi tenaga dan waktu –
tidak perlu merogoh kocek lagi setiap kali Anda ingin lebih jago dari rival
Anda.
Itu tadi jika kita melihat sebuah game
Pay-to-Play dari segi harga yang harus Anda bayarkan. Lalu, sebenarnya hal-hal
apa saja yang bisa kita dapatkan dari sebuah game original? Pertama, Anda bisa
memanfaatkan fitur multiplayer game-game ‘barat’ itu tadi. Dan yang kedua, Anda
juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk materi kepada developer favorit
Anda.
Mari kita lihat manfaat yang pertama. Dengan game original, kita bisa menggunakan fitur online dan juga multiplayer dari game tersebut. Hal ini jugalah yang sebenarnya seringkali menyebabkan salah kaprah pandangan para gamer kurang referensi yang membagi kategori game menjadi game online dan offline. Istilah yang lebih pas digunakan adalah game Free-to-Play (FTP) atau Pay-to-Play (PTP). Pandangan ini terjadi karena memang kebanyakan para gamer memainkan game-game PTP bajakan sehingga mereka tidak dapat menggunakan fitur online-nya (ataupun multiplayer-nya) karena harus terhubung dengan server publisher ataupun developernya. Saya sebenarnya sedikit lelah ketika harus berkali-kali menjelaskan hal ini kepada teman-teman saya bahwa banyak juga game-game Pay-to-Play yang bisa online. Jika Anda bertanya apakah enaknya bermain game multiplayer, saya kira Anda harus mencoba sendiri karena kepuasan tersebut tidak akan pernah dapat dibandingkan dengan bermain game secara singleplayer. Paling tidak, bayangkan saja seperti ini, bermain game merupakan sebuah bentuk realita virtual yang mengajak Anda hidup di dunia lain sejenak. Bermain game secara multiplayer memungkinkan Anda untuk hidup di dunia fantasi tadi bersama teman-teman Anda.
Manfaat kedua dari memainkan game original
adalah memberikan Anda kesempatan untuk memberikan dukungan materi kepada sang
developernya. Bagaimana dukungan materi untuk sang developer dapat menjadi
manfaat bagi sang gamer? Anda mungkin akan bertanya, “Anda tidak sedang mabuk
kan?”
Beberapa waktu yang lalu, kita dengar sebuah
kabar buruk dari sebuah publisher dan developer besar di luar sana. THQ bangkrut.
Jika Anda belum pernah dengar nama THQ, mungkin Anda harus malu menyandang
predikat ‘gamer’. THQ adalah sebuah developer atau publisher yang mengeluarkan
seri Company of Heroes, Broken Sword,
Darksiders, Warhammer 40,000, WWE (Smackdown
dan kawan-kawannya) dan begitu banyak game lainnya. Dari salah satu data yang
kami dapatkan, THQ telah merilis 55 game (sebagai publisher) dan membuat 267
game (sebagai developer). Well, saya memang tidak akan mengatakan bahwa THQ
bangkrut hanya karena banyak gamenya yang dibajak karena pasti ada banyak
faktor lain juga di sana. Namun paling tidak, jika game-game rilisan dan buatan
mereka lebih banyak dibeli (bukan lebih banyak dibajak), mungkin saja, mereka
bisa bertahan sampai hari ini. Keuntungan kita sebagai para gamer saat bisa
memberikan dukungan materi bagi developer kesayangan adalah memberikan peluang
yang lebih besar bagi mereka untuk membuat game-game hebat lebih banyak lagi.
Akhirnya, saya, sebagai seorang gamer,
memandang AMD tidak hanya memberikan sebuah tawaran yang menggoda dengan
memberikan game-game berkualitas secara gratis namun juga mengajak kita,
setidaknya saya, sebagai para gamer untuk berpikir lebih jauh tentang
developer-developer game kesayangan kita dan karya-karya mereka yang jauh lebih
berharga ketimbang sekedar materi semata.
Jakarta, 14 Februari 2013
Yabes Elia

No comments:
Post a Comment