Wednesday, February 13, 2013

Never Settle Gamer, Never...



Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan sebuah promosi dari AMD bernama Never Settle Reloaded. Program ini merupakan lanjutan dari program promo beberapa waktu silam yang memberikan hadiah free games kepada para pembeli kartu grafis AMD Radeon seri HD 7900 dan 7800. Kali ini, Never Settle Reloaded membagi-bagikan game-game menarik seperti Crysis 3, DmC, Tomb Raider, dan BioShock Infinite bagi para pengguna kartu grafis AMD Radeon. Memang, kita tetap harus mengunduh game-game tersebut karena AMD hanya memberikannya dalam bentuk Steam code (karena itu kita juga harus membuat akun Steam bagi yang belum memilikinya). Tentunya, akan lebih menarik ketika promo tersebut langsung memberikan DVD installer karena para pengguna tadi tidak harus mengunduhnya dari internet, mengingat sebagian para gamer di Indonesia memiliki koneksi internet yang tidak terlalu dapat ‘diandalkan’. Namun demikian yang menarik bagi saya adalah Never Settle Reloaded tidak hanya sebuah bentuk promosi namun juga sekaligus bentuk edukasi, terutama bagi para gamer di Indonesia.



Seberapa banyakkah para gamer yang bermain dengan game bajakan? Harga seringkali dijadikan kambing hitam bagi para gamer memilih game bajakan. Mungkin, bagi para gamer di negara-negara maju, kisaran harga US$ 30-60 untuk sebuah game bukan harga yang memberatkan. Namun, dengan kondisi perekonomian di sini, harga tersebut bisa jadi sebuah harga yang terlalu tinggi untuk sebagian orang. Meski begitu, mari kita coba bandingkan dengan game-game Free-to-Play yang menggunakan sistem micro-transaction atau yang lebih dikenal dengan Item Mall. Jika Anda ingin ‘imba’ di game-game tersebut, Anda tidak akan mungkin hanya menghabiskan uang sekitar Rp 300 – 600 ribu saja. Beberapa kawan yang saya kenal menghabiskan dana sampai jutaan Rupiah hanya untuk membuat senjata dewa. Sistem Item Mall memang memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri namun saya tidak ingin membahas itu di sini. Saya ingin membandingkannya dengan harga game-game Pay-to-Play tadi. Hanya dengan kisaran harga Rp 300 – 600 ribuan, Anda bisa bermain game sepuas yang Anda mau. Anda bebas bermain 24 jam selama 7 hari non-stop, tidak akan ada yang melarang Anda. Untuk menjadi ‘imba’ pun Anda hanya perlu investasi tenaga dan waktu – tidak perlu merogoh kocek lagi setiap kali Anda ingin lebih jago dari rival Anda.

Itu tadi jika kita melihat sebuah game Pay-to-Play dari segi harga yang harus Anda bayarkan. Lalu, sebenarnya hal-hal apa saja yang bisa kita dapatkan dari sebuah game original? Pertama, Anda bisa memanfaatkan fitur multiplayer game-game ‘barat’ itu tadi. Dan yang kedua, Anda juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk materi kepada developer favorit Anda.















Mari kita lihat manfaat yang pertama. Dengan game original, kita bisa menggunakan fitur online dan juga multiplayer dari game tersebut. Hal ini jugalah yang sebenarnya seringkali menyebabkan salah kaprah pandangan para gamer kurang referensi yang membagi kategori game menjadi game online dan offline. Istilah yang lebih pas digunakan adalah game Free-to-Play (FTP) atau Pay-to-Play (PTP). Pandangan ini terjadi karena memang kebanyakan para gamer memainkan game-game PTP bajakan sehingga mereka tidak dapat menggunakan fitur online-nya (ataupun multiplayer-nya) karena harus terhubung dengan server publisher ataupun developernya. Saya sebenarnya sedikit lelah ketika harus berkali-kali menjelaskan hal ini kepada teman-teman saya bahwa banyak juga game-game Pay-to-Play yang bisa online. Jika Anda bertanya apakah enaknya bermain game multiplayer, saya kira Anda harus mencoba sendiri karena kepuasan tersebut tidak akan pernah dapat dibandingkan dengan bermain game secara singleplayer. Paling tidak, bayangkan saja seperti ini, bermain game merupakan sebuah bentuk realita virtual yang mengajak Anda hidup di dunia lain sejenak. Bermain game secara multiplayer memungkinkan Anda untuk hidup di dunia fantasi tadi bersama teman-teman Anda.

Manfaat kedua dari memainkan game original adalah memberikan Anda kesempatan untuk memberikan dukungan materi kepada sang developernya. Bagaimana dukungan materi untuk sang developer dapat menjadi manfaat bagi sang gamer? Anda mungkin akan bertanya, “Anda tidak sedang mabuk kan?”

Beberapa waktu yang lalu, kita dengar sebuah kabar buruk dari sebuah publisher dan developer besar di luar sana. THQ bangkrut. Jika Anda belum pernah dengar nama THQ, mungkin Anda harus malu menyandang predikat ‘gamer’. THQ adalah sebuah developer atau publisher yang mengeluarkan seri Company of Heroes, Broken Sword, Darksiders, Warhammer 40,000, WWE (Smackdown dan kawan-kawannya) dan begitu banyak game lainnya. Dari salah satu data yang kami dapatkan, THQ telah merilis 55 game (sebagai publisher) dan membuat 267 game (sebagai developer). Well, saya memang tidak akan mengatakan bahwa THQ bangkrut hanya karena banyak gamenya yang dibajak karena pasti ada banyak faktor lain juga di sana. Namun paling tidak, jika game-game rilisan dan buatan mereka lebih banyak dibeli (bukan lebih banyak dibajak), mungkin saja, mereka bisa bertahan sampai hari ini. Keuntungan kita sebagai para gamer saat bisa memberikan dukungan materi bagi developer kesayangan adalah memberikan peluang yang lebih besar bagi mereka untuk membuat game-game hebat lebih banyak lagi.


Saya cukup percaya bahwa para gamer adalah orang-orang yang sangat loyal. Kita sebenarnya adalah konsumen yang cukup setia dengan produk-produk yang memungkinkan kita menikmati setiap sesi gaming kita masing-masing, termasuk game itu sendiri. Karena itu, di sini saya juga mengajak para gamer untuk berandai-andai, apa yang akan terjadi ketika semua developer game favorit kita tiba-tiba bangkrut.Well, hari-hari kita tentunya akan jadi sangat membosankan karena kita harus lebih banyak berhadapan dunia nyata yang begitu menyebalkan.

Akhirnya, saya, sebagai seorang gamer, memandang AMD tidak hanya memberikan sebuah tawaran yang menggoda dengan memberikan game-game berkualitas secara gratis namun juga mengajak kita, setidaknya saya, sebagai para gamer untuk berpikir lebih jauh tentang developer-developer game kesayangan kita dan karya-karya mereka yang jauh lebih berharga ketimbang sekedar materi semata.

Jakarta, 14 Februari 2013
Yabes Elia 

No comments:

Post a Comment