Akhirnya aku
kembali lagi ke sebuah realita. Realita yang mengatakan aku harus membayar
sebuah harga untuk mendapatkan hal lainnya. Hidup memang selalu dipenuhi
pertukaran. Selalu ada yang harus dikorbankan agar dapat meraih hal-hal yang
baru. Aku kembali lagi ke ibukota dimana aku harus bekerja dan meninggalkan
anak dan istriku di kota yang berbeda. Satu hal yang membuatku berat adalah aku
tidak dapat memutuskan manakah yang lebih berarti, lebih penting, ataupun lebih
mendekatkanku pada tujuan akhirku.
Pekerjaanku saat ini sangat sesuai dengan kesenangan dan kebisaanku. Apakah aku salah ketika aku melakukan hal yang kusukai? Toh aku tahu aku juga dapat terus berkarya di sini. Aku bisa membagikan sekian banyak isi kepalaku kepada teman-temanku ataupun kepada para pembaca. Selain itu, aku juga tahu keluargaku pasti butuh materi untuk bertahan hidup. Aku ingin memberikan begitu banyak pilihan untuk anakku sampai akhirnya dia bisa mandiri nantinya dan banyak pilihan akan membutuhkan banyak materi untuk dapat membuka pilihan-pilihan tersebut. Meski aku juga tidak yakin dengan perolehan materi yang kudapat dari pekerjaanku sekarang ini namun aku juga tidak yakin akan bisa mendapatkan pekerjaan lain yang bisa memberikan perolehan materi yang lebih baik tanpa harus mengorbankan diriku melacur demi sesuap nasi melakukan banyak hal yang tidak kusukai.
Mungkin memang tulisanku kali ini terkesan sebagai bentuk kecengengan,
keluh kesah atau apapun itu namanya. Mungkin memang manusia adalah mahluk
cengeng, hanya saja masing-masing memiliki sisi kecengengannya sendiri. Namun
satu hal yang sangat kupercayai adalah menyadari semua hal yang terjadi dalam
diri kita adalah langkah pertama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang
ada. Selain itu, kegelisahan yang hanya dicoba untuk dilupakan atau dibuang
jauh-jauh mungkin malah akan semakin menghantui proses pembelajaran hidup itu
sendiri. Aku menuliskan ini sebagai upaya atas penyadaran atas dilema dan
perdebatan yang terjadi di kepalaku. Paling tidak, meng-verbalkan ide menjadi
bahasa lisan ataupun tulisan adalah salah satu cara mengenali diri yang paling
manjur bagiku.
Jakarta, 6 Maret 2013
No comments:
Post a Comment