Tuesday, March 5, 2013

Mencari Resah, Menemukan Gelisah


Akhirnya aku kembali lagi ke sebuah realita. Realita yang mengatakan aku harus membayar sebuah harga untuk mendapatkan hal lainnya. Hidup memang selalu dipenuhi pertukaran. Selalu ada yang harus dikorbankan agar dapat meraih hal-hal yang baru. Aku kembali lagi ke ibukota dimana aku harus bekerja dan meninggalkan anak dan istriku di kota yang berbeda. Satu hal yang membuatku berat adalah aku tidak dapat memutuskan manakah yang lebih berarti, lebih penting, ataupun lebih mendekatkanku pada tujuan akhirku.

            Pekerjaanku saat ini sangat sesuai dengan kesenangan dan kebisaanku. Apakah aku salah ketika aku melakukan hal yang kusukai? Toh aku tahu aku juga dapat terus berkarya di sini. Aku bisa membagikan sekian banyak isi kepalaku kepada teman-temanku ataupun kepada para pembaca. Selain itu, aku juga tahu keluargaku pasti butuh materi untuk bertahan hidup. Aku ingin memberikan begitu banyak pilihan untuk anakku sampai akhirnya dia bisa mandiri nantinya dan banyak pilihan akan membutuhkan banyak materi untuk dapat membuka pilihan-pilihan tersebut. Meski aku juga tidak yakin dengan perolehan materi yang kudapat dari pekerjaanku sekarang ini namun aku juga tidak yakin akan bisa mendapatkan pekerjaan lain yang bisa memberikan perolehan materi yang lebih baik tanpa harus mengorbankan diriku melacur demi sesuap nasi melakukan banyak hal yang tidak kusukai.

Namun begitu, berada jauh dari anakku selalu membuatku rindu. Entahlah apa itu namanya, namun kerinduanku ini sangat berbeda dengan yang kurasakan dengan orang-orang lain yang juga dekat denganku. Aku rindu dengan begitu banyak hal. Aku rindu dengan kota Jogja yang begitu ramah. Aku rindu dengan kawan-kawanku para pejuang hidup dan sastra di Jogja yang selalu siap menjadi ‘sparring partner’ isi kepalaku. Aku juga rindu pada istriku yang juga tak pernah lelah menjadi teman belajar yang paling istimewa. Namun semua kerinduan itu tak akan pernah sebanding dengan kerinduanku pada anakku. Aku baru tahu ternyata rindu bisa begitu pahit dan menyakitkan.

Mungkin memang tulisanku kali ini terkesan sebagai bentuk kecengengan, keluh kesah atau apapun itu namanya. Mungkin memang manusia adalah mahluk cengeng, hanya saja masing-masing memiliki sisi kecengengannya sendiri. Namun satu hal yang sangat kupercayai adalah menyadari semua hal yang terjadi dalam diri kita adalah langkah pertama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. Selain itu, kegelisahan yang hanya dicoba untuk dilupakan atau dibuang jauh-jauh mungkin malah akan semakin menghantui proses pembelajaran hidup itu sendiri. Aku menuliskan ini sebagai upaya atas penyadaran atas dilema dan perdebatan yang terjadi di kepalaku. Paling tidak, meng-verbalkan ide menjadi bahasa lisan ataupun tulisan adalah salah satu cara mengenali diri yang paling manjur bagiku.

Akhirnya, mungkin dilema antara pekerjaanku saat ini dan anakku tidak akan pernah selesai terlepas dari kondisi ataupun keputusanku. Mungkin memang benar seperti yang A.N Whitehead katakan, “Tidak ada yang namanya satu kebenaran. Yang ada hanyalah setengah kebenaran.” Mungkin memang tidak ada jawaban ataupun pilihan yang lebih baik dari yang lain. Mungkin aku juga tidak akan pernah mengetahuinya. Tapi paling tidak yang aku tahu, aku menyadari kegelisahanku dan aku menyadari aku bisa belajar dari kegelisahanku itu tadi. Biarkan aku menuliskan kutipan dari tokoh idolaku, Socrates, sebagai penutup dari tulisan ini, “Hidup yang tidak pernah dipertanyakan tidak layak untuk dijalani.”

Jakarta, 6 Maret 2013

No comments:

Post a Comment