Beberapa hari yang lalu,
saya membaca sebuah berita yang mengatakan bahwa bupati Purwakarta mengeluarkan
perintah untuk menutup semua warnet dan game center yang ada di kota tersebut. Bagi para
warnet dan game center yang tidak memiliki ijin, mereka akan ditutup. Sedangkan
bagi tempat-tempat yang telah mengantongi ijin, mereka akan diperintahkan untuk
tidak membuka tempat tersebut pada jam-jam sekolah dan bahkan jam-jam mengaji.
Baca selengkapnya di sini dan di sini
Alasannya? Sebuah alasan
klasik yang mengatakan bahwa bermain game dinilai memberikan pengaruh buruk
kepada para pelajar. Lucunya, usaha ini dianggap sebuah langkah berani sang
bupati. Padahal, menurut saya, hal ini adalah sebaliknya karena hanya berani
konfrontasi dengan para pengusaha warnet di Purwakarta yang sebagian mungkin
hanyalah pengusaha kecil dan menengah.
Jika memang yang menjadi
masalah adalah game online, kenapa tidak mencoba menutup akses internet ke
server publisher game online di seluruh Purwakarta? Jika memang game online
yang menyebabkannya, publisher game online tentu adalah pihak yang paling
bertanggung jawab karena merekalah yang membawa masuk game-game tersebut ke Indonesia .
Mungkin saja si bupati ini sedikit gaptek jadi tidak tahu cara untuk menutup
akses internet ke server-server tertentu - kalau perlu sekalian tutup akses
internet secara total di kota
tersebut, toh internet juga punya banyak pengaruh buruk. Mungkin juga si
bupati ini tidak berani konfrontasi dengan pengusaha kelas kakap yang menjadi
publisher game macam Megaxus, Lyto dan kawan-kawannya.
Well, saya kira kita tidak
mungkin mengetahui alasan persisnya dari sang bupati menutup bisnis para
pengusaha warnet tersebut. Bisa jadi kebijakan tersebut hanyalah usaha cari
muka ke sebagian kecil masyarakat kolot karena si bupati sedang diincar komisi
anti rasuah. Saya tidak akan membahas alasan itu lebih jauh karena hal yang
lebih menarik bagi saya di sini adalah paradigma orang-orang yang ingin
menghapuskan sesuatu karena hal tersebut punya sedikit pengaruh buruk.
Tolong sebutkan pada saya
satu hal saja di dunia ini yang tidak memiliki pengaruh buruk sedikit pun.
Mungkin memang game memberikan efek kecanduan bagi sebagian gamer.
Namun saya juga pernah menemukan berita bahwa ada orang yang meninggal gara-gara
menonton Piala Dunia tanpa istirahat. Olahraga pun punya pengaruh buruk seperti
para petinju yang menderita Parkinson di usia tuanya. Televisi dan advertising
pun memberikan pengaruh buruk bagi penontonnya yang menimbulkan gaya hidup konsumtif. Berapa banyak juga
peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas sejak kendaraan bermotor ditemukan?
Hell, bahkan agama yang sering dianggap hal transenden pun memberi pengaruh
buruk bagi sebagian orang. Perang salib, tragedi 9/11 di WTC, terorisme,
pertempuran penganut Islam Sunni dan Shia, dan yang dekat dengan kita di
Indonesia, kasus jemaat Ahmadiyah yang dianiyaya, adalah sekelumit contoh
pengaruh buruk agama bagi sebagian orang. Bukan berarti juga agamanya yang harus dihilangkan namun
orang-orang yang bersembunyi di balik agama tersebutlah yang harusnya dimintai
pertanggungjawaban.
Terakhir, yah mungkin
orang-orang seperti sang bupati juga pasti ada dan tidak akan mungkin bisa
dihilangkan. Kekuasaan itu sendiri juga adalah sebuah objek, sama seperti
hal-hal yang tadi saya sebutkan. Di tangan mereka yang punya logika dan etika,
kekuasaan akan menghasilkan kebijakan-kebijakan baik dan bermanfaat. Di tangan
para penjahat dan orang-orang bodoh? Kekuasaan bisa jadi sebuah kekonyolan besar...
No comments:
Post a Comment