Wednesday, May 8, 2013

Game Online as a scapegoat?


Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah berita yang mengatakan bahwa bupati Purwakarta mengeluarkan perintah untuk menutup semua warnet dan game center yang ada di kota tersebut. Bagi para warnet dan game center yang tidak memiliki ijin, mereka akan ditutup. Sedangkan bagi tempat-tempat yang telah mengantongi ijin, mereka akan diperintahkan untuk tidak membuka tempat tersebut pada jam-jam sekolah dan bahkan jam-jam mengaji. Baca selengkapnya di sini dan di sini



Alasannya? Sebuah alasan klasik yang mengatakan bahwa bermain game dinilai memberikan pengaruh buruk kepada para pelajar. Lucunya, usaha ini dianggap sebuah langkah berani sang bupati. Padahal, menurut saya, hal ini adalah sebaliknya karena hanya berani konfrontasi dengan para pengusaha warnet di Purwakarta yang sebagian mungkin hanyalah pengusaha kecil dan menengah.

Jika memang yang menjadi masalah adalah game online, kenapa tidak mencoba menutup akses internet ke server publisher game online di seluruh Purwakarta? Jika memang game online yang menyebabkannya, publisher game online tentu adalah pihak yang paling bertanggung jawab karena merekalah yang membawa masuk game-game tersebut ke Indonesia. Mungkin saja si bupati ini sedikit gaptek jadi tidak tahu cara untuk menutup akses internet ke server-server tertentu - kalau perlu sekalian tutup akses internet secara total di kota tersebut, toh internet juga punya banyak pengaruh buruk. Mungkin juga si bupati ini tidak berani konfrontasi dengan pengusaha kelas kakap yang menjadi publisher game macam Megaxus, Lyto dan kawan-kawannya.

Well, saya kira kita tidak mungkin mengetahui alasan persisnya dari sang bupati menutup bisnis para pengusaha warnet tersebut. Bisa jadi kebijakan tersebut hanyalah usaha cari muka ke sebagian kecil masyarakat kolot karena si bupati sedang diincar komisi anti rasuah. Saya tidak akan membahas alasan itu lebih jauh karena hal yang lebih menarik bagi saya di sini adalah paradigma orang-orang yang ingin menghapuskan sesuatu karena hal tersebut punya sedikit pengaruh buruk.

Tolong sebutkan pada saya satu hal saja di dunia ini yang tidak memiliki pengaruh buruk sedikit pun. Mungkin memang game memberikan efek kecanduan bagi sebagian gamer. Namun saya juga pernah menemukan berita bahwa ada orang yang meninggal gara-gara menonton Piala Dunia tanpa istirahat. Olahraga pun punya pengaruh buruk seperti para petinju yang menderita Parkinson di usia tuanya. Televisi dan advertising pun memberikan pengaruh buruk bagi penontonnya yang menimbulkan gaya hidup konsumtif. Berapa banyak juga peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas sejak kendaraan bermotor ditemukan? Hell, bahkan agama yang sering dianggap hal transenden pun memberi pengaruh buruk bagi sebagian orang. Perang salib, tragedi 9/11 di WTC, terorisme, pertempuran penganut Islam Sunni dan Shia, dan yang dekat dengan kita di Indonesia, kasus jemaat Ahmadiyah yang dianiyaya, adalah sekelumit contoh pengaruh buruk agama bagi sebagian orang. Bukan berarti  juga agamanya yang harus dihilangkan namun orang-orang yang bersembunyi di balik agama tersebutlah yang harusnya dimintai pertanggungjawaban.

Game, layaknya hal-hal lain tadi, agama, televisi, olahraga, kendaraan bermotor, hanyalah sekedar objek. Sebuah objek tidak akan memberikan pengaruh apapun ketika manusia sebagai pelaku tidak mengijinkan objek tersebut mengubah perilaku mereka sendiri. Sebuah pisau bisa jadi berguna untuk membantu para ibu-ibu dan koki memasak hidangan-hidangan lezat meski sebilah pisau tadi juga dapat digunakan untuk mencincang tubuh manusia di tangan orang-orang gila. Manusialah yang bertanggung jawab atas efek dari sebuah objek, bukan objek itu sendiri. Bahkan obat-obatan narkotika juga bisa jadi sangat berguna apabila di tangan para dokter yang bertanggung jawab. Narkotika menjadi pengaruh buruk karena siapa? Yup, karena kita manusia sebagai sang pelaku.

Kalau memang game memberikan pengaruh buruk kepada sebagian kecil para gamer, tentu ada yang salah dengan gamer-gamer tersebut. Entah kurang perhatian dari orang tuanya yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan atau apapun, yang pasti toh gamer-gamer tersebut masih lebih baik kecanduan game ketimbang bermain lempar-lemparan batu dengan kawan-kawannya di depan sekolah atau malah kebut-kebutan di jalan raya karena paling tidak bermain game memiliki peluang yang jauh lebih kecil untuk membahayakan nyawa sang pelakunya ketimbang banyak hal lainnya - para jemaat Ahmadiyah yang hanya ingin berdoa saja bisa tiba-tiba tertimpa batu atau bahkan dikurung di sebuah masjid.

Terakhir, yah mungkin orang-orang seperti sang bupati juga pasti ada dan tidak akan mungkin bisa dihilangkan. Kekuasaan itu sendiri juga adalah sebuah objek, sama seperti hal-hal yang tadi saya sebutkan. Di tangan mereka yang punya logika dan etika, kekuasaan akan menghasilkan kebijakan-kebijakan baik dan bermanfaat. Di tangan para penjahat dan orang-orang bodoh? Kekuasaan bisa jadi sebuah kekonyolan besar...

No comments:

Post a Comment