Beberapa hari yang lalu, saya merasa terhormat karena menjadi salah satu prioritas utama menjajal produk terbaru dari AMD, R9 290X. Saya sebenarnya sudah menanti-nanti kehadirannya sejak diumumkan beberapa bulan yang lalu. Akhirnya, produk tersebut pun datang dan saya langsung mencobanya. Saking penasarannya, saya langsung menjajal produk tersebut dan saya langsung mengunduh driver 13.11 BetaV1 dari amd.com. Saat itu, saya tidak dapat menggunakannya karena terdapat application load error dari driver tersebut. Saya pun memutuskan untuk menunggu.
Keesokan harinya, seseorang dari AMD memberikan saya link untuk mengunduh 13.11 BetaV5. Hasilnya, lancar dan kartu grafis inilah yang saya gunakan saat menulis tulisan ini.
Mengapa saya bercerita soal ini?
Well, saat saya kesulitan menginstal driver, saya sempat googling tentang masalah driver Radeon CCC. Tak dapat dipungkiri, saya menemukan banyak kasus di berbagai forum yang mengalami masalah instalasi driver - meski kasus drivernya berbeda-beda, tidak hanya untuk 13.11 BetaV1 karena saya kira masih hanya orang-orang tertentu saja yang bisa punya akses ke AMD R9. Mungkin saya seperti sedang mengeluh soal driver di sini - meski sebenarnya iya juga. Jika memang driver tersebut belum siap, kenapa ditaruh di website resmi misalnya - kecuali saya mendapatkannya dari website tidak jelas, ya itu saya yang salah. Sebenarnya saya hanya merasa sedikit sayang saja. Saya sudah mengikuti teknologi perkembangan Radeon sejak lama sekali dan mereka sudah sampai ke titik ini, R9.Jika ada yang belum tahu apakah istimewanya R9, umm mungkin Anda terlalu gaptek - namun saya akan berbaik hati menjelaskan sedikit tentangnya. Kartu grafis ini masih menggunakan arsitektur GCN yang sakti yang sudah terbukti menjadi fondasi dari kartu-kartu grafis juara - yang juga akan digunakan untuk basis arsitektur dari PS4 dan Xbox One nantinya. Di generasi R9 ini, AMD juga mengimplementasikan project Mantle yang merupakan sebuah application programming interface (API) yang akan memudahkan para developer mendapatkan akses ke otak kartu grafis (GPU). Umpamanya, Mantle ini seperti kunci jawaban ujian yang dibocorkan oleh para dosen ke para mahasiswanya sehingga mereka tak perlu lagi berpikir terlalu keras ketika mengerjakan tugasnya. Terakhir, R9 juga didisain untuk resolusi super tinggi, 4K meski untuk yang ini mungkin kita masih belum dapat menikmatinya sampai beberapa waktu ke depan.
Umm, itu tadi sebenarnya masih penyingkatan yang keterlaluan dari teknologi yang disajikan oleh R9 yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan lebih canggih. Nah, justru karena itulah, mengapa usaha hebat itu harus sedikit terganggu gara-gara driver? Kami kira AMD sudah jauh lebih dewasa sekarang ini. Meski mereka masih harus bekerja keras mengejar Intel di lini procie, AMD belum menyerah dan saya masih menunggu usaha terbaik mereka untuk menenggelamkan arogansi kubu biru. Apalagi soal Radeon-nya yang saya kira masih sangat head-to-head dengan Nvidia. Saya hanya merasa dengan R9 yang begitu fenomenal ini, ia bisa jadi sebuah titik tolak penting bagi AMD. Ia seharusnya bisa menjadi penanda sejarah kebangkitan brand besar ini, yang nanti akan disusul dengan 2 konsol next-gen yang juga sepenuhnya bergantung kepada kinerja AMD - yang jika sukses Microsoft dan Sony kemungkinan besar akan tetap 'order' dari AMD untuk konsol berikutnya lagi.
Mungkin, apa yang Anda harapkan dari sebuah tulisan tentang produk teknologi tidak akan jadi seperti ini. Well, saya punya berbagai punya sudut pandang ketika melihat sebuah produk dan saya kira, jika untuk review dan hasil benchmark, akan ada begitu banyak media lain yang dengan senang hati melakukannya. Di sini saya lebih suka melihat apakah yang kira-kira bisa dilakukan oleh sebuah produk, dalam hal ini R9 (benda mati), untuk mempengaruhi mahluk hidup - bagi para usernya mungkin akan jadi puas, atau tidak puas dengan AMD, bagi para reviewer hardware jadi bisa ada tugas baru, buat saya jadi bisa punya tulisan baru. Bagi AMD sendiri? Saya kira mereka yang lebih tahu jawabannya.



No comments:
Post a Comment