Sunday, April 19, 2015

Eksploitasi Orang Mati

Yup, kedengarannya memang menyeramkan namun hal ini sungguh terjadi di hampir semua media online, terutama di Indonesia. Ingat soal Olga Syahputra dan Paul Walker? Beberapa waktu yang lalu nyaris semua media online membahas soal kematian kedua figur publik tersebut, mulai dari yang penting, seperti waktu, tempat ataupun penyebab, sampai yang tidak ada relevansinya sama sekali – seperti komentar-komentar artis lain tentang artis yang meninggal tadi. Malah ada juga yang kurang kerjaan dengan mencaci almarhum di jejaring Twitter demi sebuah sensasi. Saya tidak akan membahas orang yang mencaci tadi karena mungkin memang sudah tidak ada obatnya. Namun saya lebih tertarik dengan media-media online yang menggila mengeksploitasi para almarhum itu tadi.

Sebenarnya, eksploitasi orang mati ini hanyalah salah satu strategi saja. Masih ada puluhan, atau bahkan ratusan trik dan eksplotasi yang digunakan demi sejumput Daily Active User (DAU) dan sepiring Page Views (PV). Kasihan… Sungguh kasihan.


Sebenarnya saya sudah terganggu saat Gus Dur, yang merupakan salah satu idola saya, meninggal 30 Desember 2009 silam. Mungkin memang waktu, tempat dan penyebab kematian figur publik layak dijadikan berita. Namun ketika sudah sampai pada berita komentar-komentar para politikus mengenai Gus Dur, di sana saya merasa kurang nyaman. Kenapa berita tersebut harus dituliskan? Apalagi setiap komentar tokoh politik dijadikan satu artikel supaya bisa terlihat ada banyak artikel. Padahal komentar mereka hanya satu kalimat dan jawabannya pun pasti akan bagus-bagus semua, “Gus Dur adalah guru bangsa, Gus Dur adalah tokoh keBhinekaan,” dan bla,bla,bla lainnya. Saya bukan tidak setuju pendapat-pendapat itu. Namun bukankah sebagian tokoh-tokoh politik itu yang dulu menggulingkan Gus Dur dari kursi presiden? Lalu sekarang numpang ngetop saat beliau wafat? Mungkin kalau saya mau bicara soal kekesalan saat itu bisa saja tidak ada habisnya.



Karena itulah, saya ingin melihatnya dari sisi para pelaku media. Sayangnya, berita-berita kematian tentang figur publik itu memang laris manis di pasaran, penting atau tidak penting beritanya. Apalagi, semua pelaku media dituntut untuk meraup Daily Active User (DAU) dan Page Views (PV) sebanyak-banyaknya setiap hari yang kemudian angka DAU dan PV tersebut dijual untuk para pengiklan. Semakin tinggi angka tadi bisa dihasilkan, semakin mahal pula harga yang harus dibayar untuk para pengiklan. Saya kira salah satu akar penyebab permasalahan tadi juga terletak di sini. Tidak banyak para pengiklan yang benar-benar peduli dengan kualitas berita dari sebuah situs. Mereka hanya ingin melihat kuantitas tanpa mempedulikan kualitas, apalagi kaidah jurnalisme atau malah kaidah menulis yang baik dan benar. Mungkin memang tidak semua para pengiklan demikian namun saya kira sebagian besar sangat peduli dengan DAU, PV, atau oplah (kalau di media cetak).



Semua berita yang provokatif juga sangat menarik perhatian user. Saya kebetulan kenal dengan seorang blogger yang namanya disebut-sebut saat ada permasalahan dengan sebuah restoran mengenai biaya charging listrik. Padahal, teman saya, si blogger tersebut, hanya me-rePath (repost) gambar orang lain. Namun medianya dengan mudah tanpa konfirmasi menuliskan berita yang memang provokatif tadi. Bagaimana tidak provokatif ketika Anda diharuskan membayar Rp 400 ribu untuk ‘nge-charge’ laptop… Berita tersebut memang pada akhirnya diluruskan oleh pihak restoran dan juga diklarifikasi oleh sang blogger tadi. Pada akhirnya, semua memang bisa diklarifikasi namun yang paling penting adalah si media tersebut sudah bisa meraih ribuan atau malah ratusan ribu active user yang terpancing oleh berita provokatif tadi. Masalah nama baik si blogger atau pihak restoran yang tidak dikonfirmasi terlebih dahulu itu urusan belakang…

Menurut saya, di sinilah penyebab kedua masalah eksploitasi ini. Bagaimanapun juga, mengikuti trend itu jauh lebih mudah ketimbang menciptakan trend baru. Mereka yang tidak benar-benar tahu apa yang seharusnya dikerjakan jauh lebih banyak ketimbang mereka yang bisa. Mereka yang masih punya idealisme pun juga jauh lebih sedikit ketimbang mereka yang takut dipecat karena tidak melakukan perintah atasan. Jujur saja, saya juga masih harus banyak belajar di industri online dengan user mainstream karena sebelumnya saya berkecimpung di media cetak yang memang juga sangat spesifik topik pembahasannya. Dari pengalaman beberapa bulan ini, saya mengakui bahwa menjaring user mainstream memang jauh lebih sulit dilakukan jika tanpa melakukan banyak eksploitasi – yang jujur saja masih saya tahan-tahan karena saya masih ingin bertahan dengan idealisme saya.



Dari situ juga saya sadar bahwa salah satu akar masalah eksploitasi tadi juga terletak pada usernya juga. Lebih banyak user yang mudah terpancing oleh berita-berita provokatif ketimbang mereka yang bisa membaca dengan jeli. Lebih banyak user yang tertarik dengan berita picisan ketimbang berita berbobot – saya kira tempo.co bisa jadi contoh yang baik untuk kasus ini. Dari media-media besar seperti detik, kompas, tempo, dkk, saya kira tempo.co punya DAU/PV paling sedikit, demikian juga dengan jumlah iklannya (disclaimer: saya tidak benar-benar tahu angkanya, tapi ini dari pengamatan saya). Namun, di sisi lain, berita di tempo.co memang yang paling selektif ketimbang media-media online lainnya – baru sampai beberapa waktu terakhir ini saja mereka mulai mainstream, mungkin sudah tidak sabar dengan idealismenya. Berita picisan tentang artis kawin, melahirkan, sunatan, atau sekedar mandi pagi memang jauh lebih memikat para user ketimbang laporan serius dari wartawan-wartawan investigasi yang mempertaruhkan banyak hal ketika melakukannya. Ironisnya, (Sebagian besar) user sendirilah yang memang menyukai berita picisan tersebut.

Pram, Goenawan Moehammad, Saut Situmorang dan penulis-penulis kawakan lainnya memang punya penggemar yang jauh lebih sedikit ketimbang duet penyanyi di YouTube yang berdada besar. Buktinya, berita foto bugil sang penyanyi tersebut jauh lebih masif ketimbang berita Saut Situmorang yang ditangkap polisi karena diadukan soal pencemaran nama baik.



Akhirnya, menurut saya, ada 3 hal yang menyebabkan eksploitasi tadi, sampai dengan eksploitasi orang mati, mulai dari para pengiklan yang lebih memperhatikan kuantitas ketimbang kualitas (karena bagaimana pun juga media adalah industri yang harus mencari profit, sehingga juga harus memikirkan para pengiklan), para pelaku media yang kehilangan akal dan idealisme sehingga harus melakukan eksploitasi, dan juga sebagian besar user yang lebih mudah dipancing (dieksploitasi) oleh berita picisan.




Jadi, apakah kita bisa mengubah semua itu? Mungkin tidak… Karena ketiga aspek penting dari industri media memberikan pengaruh besar untuk mengarah ke sana. Lagipula, dari jaman dulu kala, semua yang picisan akan selalu lebih digemari ketimbang yang berbobot dan berkualitas. Hanya saja, jika Anda adalah salah satu dari orang-orang yang jengah dengan eksploitasi tersebut, Anda bisa lebih kritis saat melihat judul-judul berita yang memang dibuat provokatif dan eksploitatif. Bagaimanapun juga, kita tetap bisa memilih dan melihat mana yang benar-benar ingin menyeimbangkan bisnis dan berbagi informasi dengan mana yang sekedar ingin menjadikan Anda sebagai sasaran tinju marketing produk. So, be wise guys.

Jakarta, 20 April 2015
Yabes Elia.

No comments:

Post a Comment