Yup, kedengarannya memang menyeramkan namun hal ini sungguh
terjadi di hampir semua media online, terutama di Indonesia. Ingat soal Olga
Syahputra dan Paul Walker? Beberapa waktu yang lalu nyaris semua media online
membahas soal kematian kedua figur publik tersebut, mulai dari yang penting,
seperti waktu, tempat ataupun penyebab, sampai yang tidak ada relevansinya sama
sekali – seperti komentar-komentar artis lain tentang artis yang meninggal
tadi. Malah ada juga yang kurang kerjaan dengan mencaci almarhum di jejaring
Twitter demi sebuah sensasi. Saya tidak akan membahas orang yang mencaci tadi
karena mungkin memang sudah tidak ada obatnya. Namun saya lebih tertarik dengan
media-media online yang menggila mengeksploitasi para almarhum itu tadi.
Sebenarnya, eksploitasi orang mati ini hanyalah salah satu
strategi saja. Masih ada puluhan, atau bahkan ratusan trik dan eksplotasi yang
digunakan demi sejumput Daily Active User (DAU) dan sepiring Page Views (PV). Kasihan…
Sungguh kasihan.
Sebenarnya saya sudah terganggu saat Gus Dur, yang merupakan
salah satu idola saya, meninggal 30 Desember 2009 silam. Mungkin memang waktu,
tempat dan penyebab kematian figur publik layak dijadikan berita. Namun ketika
sudah sampai pada berita komentar-komentar para politikus mengenai Gus Dur, di
sana saya merasa kurang nyaman. Kenapa berita tersebut harus dituliskan?
Apalagi setiap komentar tokoh politik dijadikan satu artikel supaya bisa
terlihat ada banyak artikel. Padahal komentar mereka hanya satu kalimat dan jawabannya
pun pasti akan bagus-bagus semua, “Gus Dur adalah guru bangsa, Gus Dur adalah
tokoh keBhinekaan,” dan bla,bla,bla lainnya. Saya bukan tidak setuju pendapat-pendapat
itu. Namun bukankah sebagian tokoh-tokoh politik itu yang dulu menggulingkan
Gus Dur dari kursi presiden? Lalu sekarang numpang ngetop saat beliau wafat? Mungkin
kalau saya mau bicara soal kekesalan saat itu bisa saja tidak ada habisnya.
Karena itulah, saya ingin melihatnya dari sisi para pelaku
media. Sayangnya, berita-berita kematian tentang figur publik itu memang laris
manis di pasaran, penting atau tidak penting beritanya. Apalagi, semua pelaku
media dituntut untuk meraup Daily Active User (DAU) dan Page Views (PV)
sebanyak-banyaknya setiap hari yang kemudian angka DAU dan PV tersebut dijual
untuk para pengiklan. Semakin tinggi angka tadi bisa dihasilkan, semakin mahal
pula harga yang harus dibayar untuk para pengiklan. Saya kira salah satu akar
penyebab permasalahan tadi juga terletak di sini. Tidak banyak para pengiklan
yang benar-benar peduli dengan kualitas berita dari sebuah situs. Mereka hanya
ingin melihat kuantitas tanpa mempedulikan kualitas, apalagi kaidah jurnalisme
atau malah kaidah menulis yang baik dan benar. Mungkin memang tidak semua para
pengiklan demikian namun saya kira sebagian besar sangat peduli dengan DAU, PV,
atau oplah (kalau di media cetak).
Semua berita yang provokatif juga sangat menarik perhatian
user. Saya kebetulan kenal dengan seorang blogger yang namanya disebut-sebut
saat ada permasalahan dengan sebuah restoran mengenai biaya charging listrik. Padahal,
teman saya, si blogger tersebut, hanya me-rePath (repost) gambar orang lain.
Namun medianya dengan mudah tanpa konfirmasi menuliskan berita yang memang
provokatif tadi. Bagaimana tidak provokatif ketika Anda diharuskan membayar Rp
400 ribu untuk ‘nge-charge’ laptop… Berita tersebut memang pada akhirnya
diluruskan oleh pihak restoran dan juga diklarifikasi oleh sang blogger tadi.
Pada akhirnya, semua memang bisa diklarifikasi namun yang paling penting adalah
si media tersebut sudah bisa meraih ribuan atau malah ratusan ribu active user
yang terpancing oleh berita provokatif tadi. Masalah nama baik si blogger atau
pihak restoran yang tidak dikonfirmasi terlebih dahulu itu urusan belakang…
Menurut saya, di sinilah penyebab kedua masalah eksploitasi
ini. Bagaimanapun juga, mengikuti trend itu jauh lebih mudah ketimbang
menciptakan trend baru. Mereka yang tidak benar-benar tahu apa yang seharusnya
dikerjakan jauh lebih banyak ketimbang mereka yang bisa. Mereka yang masih
punya idealisme pun juga jauh lebih sedikit ketimbang mereka yang takut dipecat
karena tidak melakukan perintah atasan. Jujur saja, saya juga masih harus banyak belajar di industri
online dengan user mainstream karena sebelumnya saya berkecimpung di media
cetak yang memang juga sangat spesifik topik pembahasannya. Dari pengalaman beberapa bulan
ini, saya mengakui bahwa menjaring user mainstream memang jauh lebih sulit dilakukan jika tanpa melakukan banyak
eksploitasi – yang jujur saja masih saya tahan-tahan karena saya masih ingin
bertahan dengan idealisme saya.
Dari situ
juga saya sadar bahwa salah satu akar masalah eksploitasi tadi juga terletak
pada usernya juga. Lebih banyak user yang mudah terpancing oleh berita-berita
provokatif ketimbang mereka yang bisa membaca dengan jeli. Lebih banyak user
yang tertarik dengan berita picisan ketimbang berita berbobot – saya kira
tempo.co bisa jadi contoh yang baik untuk kasus ini. Dari media-media besar
seperti detik, kompas, tempo, dkk, saya kira tempo.co punya DAU/PV paling
sedikit, demikian juga dengan jumlah iklannya (disclaimer: saya tidak
benar-benar tahu angkanya, tapi ini dari pengamatan saya). Namun, di sisi lain,
berita di tempo.co memang yang paling selektif ketimbang media-media online
lainnya – baru sampai beberapa waktu terakhir ini saja mereka mulai mainstream,
mungkin sudah tidak sabar dengan idealismenya. Berita picisan tentang artis kawin,
melahirkan, sunatan, atau sekedar mandi pagi memang jauh lebih memikat para user
ketimbang laporan serius dari wartawan-wartawan investigasi yang mempertaruhkan
banyak hal ketika melakukannya. Ironisnya, (Sebagian besar) user sendirilah
yang memang menyukai berita picisan tersebut.
Pram,
Goenawan Moehammad, Saut Situmorang dan penulis-penulis kawakan lainnya memang punya
penggemar yang jauh lebih sedikit ketimbang duet penyanyi di YouTube yang
berdada besar. Buktinya, berita foto bugil sang penyanyi tersebut jauh lebih masif
ketimbang berita Saut Situmorang yang ditangkap polisi karena diadukan soal
pencemaran nama baik.
Akhirnya,
menurut saya, ada 3 hal yang menyebabkan eksploitasi tadi, sampai dengan eksploitasi
orang mati, mulai dari para pengiklan yang lebih memperhatikan kuantitas
ketimbang kualitas (karena bagaimana pun juga media adalah industri yang harus
mencari profit, sehingga juga harus memikirkan para pengiklan), para pelaku
media yang kehilangan akal dan idealisme sehingga harus melakukan eksploitasi,
dan juga sebagian besar user yang lebih mudah dipancing (dieksploitasi) oleh
berita picisan.
Jadi,
apakah kita bisa mengubah semua itu? Mungkin tidak… Karena ketiga aspek penting
dari industri media memberikan pengaruh besar untuk mengarah ke sana. Lagipula,
dari jaman dulu kala, semua yang picisan akan selalu lebih digemari ketimbang
yang berbobot dan berkualitas. Hanya saja, jika Anda adalah salah satu dari
orang-orang yang jengah dengan eksploitasi tersebut, Anda bisa lebih kritis
saat melihat judul-judul berita yang memang dibuat provokatif dan eksploitatif.
Bagaimanapun juga, kita tetap bisa memilih dan melihat mana yang benar-benar
ingin menyeimbangkan bisnis dan berbagi informasi dengan mana yang sekedar ingin menjadikan Anda sebagai
sasaran tinju marketing produk. So, be wise guys.
Jakarta, 20 April 2015
Jakarta, 20 April 2015
Yabes Elia.







No comments:
Post a Comment